Ibnu Taimiyah Membungkam Wahabi
Selama ini perseteruan yang terjadi antara golongan yang menamakan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah dan golongan pengikut paham Wahabi tidak pernah kunjung selesai. Masing-masing mengklaim bahwa golongannya adalah yang paling benar, dan memang sudah sunnatullah, bahwa para pengikut suatu golongan secara pasti fanatik dengan golongannya, terlepas dari yang diikutinya benar atau tidak.
كل حزب بما لديهم فرحون (سورة المؤمنون : 53)
Kebenaran secara mutlak memang ada di tangan Allah swt., karena sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha mencari kebenaran itu dengan proses ijtihad yang berpedomankan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Ijtihad yang dilakukan bisa jadi tepat ataupun kurang tepat, tetapi Rasulullah saw telah memberikan garansi bahwa tidak ada ijtihad yang "salah", selama mujtahidnya memenuhi syarat untuk melakukan itu, dan tidak keluar ataupun bertentangan dengan koridor aturan yang telah diajarkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Melalui garansi yang dinyatakan Rasulullah saw., sebenarnya tidak menjadi masalah jika ada suatu golongan yang mengklaim "kebenaran", namun dengan jalan yang ma'ruf, yakni tetap menghormati perbedaan pendapat golongan lain (toleransi), tanpa menimbulkan perseteruan yang memalukan, dan dengan mudah melabeli golongan lain "sesat", "bid'ah", bahkan "kafir", na'udzu billah.
Selayaknya kita memperhatikan Sunnah Rasulullah yang menyatakan bahwa siapapun manusia yang masih berpegang teguh pada kalimat tauhid "La Ilaha Illallah" dan masih melaksanakan shalat adalah saudara kita sesama Muslim, terlepas dari perilakunya yang mungkin dianggap "menyalahi syariat", "menyalahi tuntunan Rasul", "berbuat hal-hal yang tidak diajarkan oleh Rasul", dan lain sebagainya. Bahkan, kalimat "La Ilaha illallah" tersebut menjadi jaminan keharaman ditumpahkan darahnya, meskipun ia mengucapkannya hanya sekadar sebagai tameng, taqiyyah, atau kebohongan semata. Sebagai manusia, kita hanya bisa menilai orang lain dari segi zhahir, dan Allah yang Maha Mengetahui apa yang terkandung di batinnya, Dia pula yang akan memberikan pengadilan kelak di akhirat.
نحكم بالظواهر والله أعلم بالسرائر
Selama ini, kita banyak membaca tentang kriteria golongan Salaf, Salafi, atau apapun namanya yang banyak tersebar di buku-buku, maupun di situs internet. Sebenarnya, siapakah yang pantas disebut sebagai salafi? atau pernahkah kita melakukan penelusuran, verifikasi, atau pendalaman mengenai kelompok tersebut? atau pernahkah sebagai seorang yang mengidentikkan perilakunya dengan label "salafi" berusaha melakukan verifikasi tentang acuan dan referensi yang dianut selama ini, apakah informasi yang dipelajari telah sepenuhnya mencerminkan pandangan seutuhnya dari ulama-ulama yang menjadi anutannya? Terkadang kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan subyektif, karena "ketidaktahuan" atau kurangnya referensi untuk menjawab dengan tepat. Bahkan, bagi sebagian orang mungkin disebabkan oleh "keterlanjuran" apa yang sudah diikuti, sehingga menafikan segala hal yang mungkin mengandung kebenaran yang tidak pernah terlintas dalam benaknya selama ini.
Salah seorang ikhwan akan membantu kita, mengisi kebuntuan pemahaman kita tentang hal tersebut, bukan berarti mengklaim dirinya paling benar, tetapi uraian yang disampaikan berdasarkan fakta yang didasari oleh sebuah pendalaman, pengalaman, dengan berlandaskan bukti-bukti yang valid dan komprehensif. Silahkan dipelajari dan direnungkan apa yang ia sampaikan di blognya:
http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/16/ibnu-taimiyah-membungkam-wahhabi/
Tulisan ini bukan bermaksud menimbulkan kebencian, kegelisahan, dan perseteruan, tetapi lebih mengedepankan semangat ilmiah untuk mengkaji literatur Islam klasik lebih mendalam. Silahkan berdiskusi secara bijak, bukan dengan emosi, dan tetap menghargai pendapat orang lain. Ambillah kebenaran itu meskipun datang dari pihak yang tidak kita sukai, dan eliminir segala keraguan dan kesalahan meskipun datang dari pihak yang kita cintai. Semoga bermanfaat, dan bisa membuka cakrawala keilmuan kita lebih luas. Amin.













