Nahwu dan Akhlak
Menarik, apa yang telah ditulis oleh Al-Ustadz H. Muhammad Jamhuri Lc, MA, tentang ‘Filsafat Ilmu Nahwu”. Saat membacanya secara tiba-tiba terbayang bagaikan sebuah “film kehidupan” diputar kembali. Saat-saat dimana saya belajar di YAPINK, hiruk-pikuk di pondok tercinta adalah hiruk pikuk yang penuh dengan zikir, tasbih, permohonan dan segudang kebaikan itu seakan-akan terngiang kembali di telinga saya. Seakan saya masih mendengar alunan suara seorang santri dipojok beranda masjid yang sedang menghafal bait-bait Alfiyah… khusyu’..matanya terpejam.. sambil mulutnya komat-kamit melafalkan bait-bait Alfiyah .. entah .. sudah berapa bait yang telah dia hafal. Melihat raut wajahnya dan gumaman mulutnya… ahh.. sekan-akan dia begitu menikmati “makanan intelektual”nya… nikmat… sungguh nikmat.
Tulisan tentang Filsafat Nahwu mengingatkan saya bait-bait Alfiyah yang tidak hanya mengandung pelajaran Gramatika Bahasa Arab, tapi lebih dari itu.. Alfiyah adalah pelajaran Akhlak, Tauhid serta Tasawuf. Sebagai contoh dapat kita lihat di Bab Pertama tentang “Kalam” pada bait pertama, Sang pengarang berkata: كلامنا لفظ مفيد كاستقم ...... Kenapa sang pengarang memilih kata Istaqim???...kenapa tidak memilih kata lain???... Istaqim adalah kata kerja perintah (Fi’il Amr) yang berarti “berbuat luruslah kamu”… hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT: “Fastaqim kama umirta”… Istiqomah adalah hal yang sulit dan sedikit sekali orang yang berlaku lurus dan beristiqomah dalam kelurusannya itu. Bersikap lurus hanya akan dapat dilakukan bila sumbernya, “hati”, lebih dahulu telah lurus. Di antaranya lagi adalah bait Alfiyah berbunyi: وجر بالفتحة مالاينصرف مالم يضف أو يك بعد ال ردف
Bait di atas adalah tentang Isim Ghoru-Munshorif yang harus di Fathah bila di Jar-kan selama Isim tersebut belum menjadi atau di mudhofkan atau memakai AL (Alif Lam Ta’rif). Jar atau kasrah adalah lambang kerendahan dan kehinaan (sebagaimana tulisan H. Muhammad Jamhuri), atau bisa juga sebagai lambang ketawadhu’an atau rendah diri. Fathah adalah lambang keterbukaan atau kemenangan kedudukan karena ia bertempat di atas huruf. Isim Ghoir-Munshorif adalah isim yang tidak dapat mengalami perubahan kata (tashrif) Mudhof adalah lambang keterikatan atau penyerahan kepada yang berada di depannya. AL (Alif Lam) adalah lambang ma’rifah atau kekhususan. Sebab jika Isim sudah kemasukan AL maka isim tersebut menjadi Isim Ma’rifah atau Isim tersebut adalah khusus. Seakan-akan bait tersebut berkata: “Orang-orang yang susah diatur / keras kepala, merasa tinggi (sombong) dan tidak mau tunduk (Isim Ghoir Munshorif) maka Allah SWT akan merendahkan derajatnya (dijarkan) dengan cara Allah SWT akan memberikan kemenangan di dunia, hidupnya akan senang, derajatnya ditinggikan (fathah) di hadapan manusia, yang semua itu sebagai “Istidraj” untuknya. Karena dia tidak tahu hakikatnya dia telah direndahkan (dijarkan) yang tidak Nampak. Namun bila dia sudah menyandarkan jiwanya (Mudhof) atau mengikatkan dirinya dengan Allah SWT (hatinya bergantung kepada Allah SWT) , atau dia telah mengenal Tuhannya (Ma’rifah) maka Ketawadhu’an (Jar) baru dapat dia lakukan. Teruntuk Guru-guruku.. Terimakasih…













