Mari Belajar Bahasa Arab
Animo masyarakat untuk mempelajari Bahasa Arab, akhir-akhir ini kian menajam. Bukan hanya berlaku bagi kalangan masyarakat yang beragama Islam, tetapi juga merambah di kalangan masyarakat umum. Bagi yang beragama Islam, hal ini sudah lumrah, bahkan menjadi sebuah keniscayaan, karena kitab suci Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab. Lain halnya dengan masyarakat umum, kecenderungan mendalami bahasa ini akan memiliki nilai tambah, karena Bahasa Arab telah menjadi salah satu bahasa resmi di dunia internasional, yang berpotensi membangun kemitraan dengan para penuturnya. Terlebih lagi Bangsa Arab memiliki peran yang cukup strategis dalam stabilitas perekonomian dunia internasional, terutama dalam hal memasok kebutuhan minyak bumi yang menjadi salah satu roda penggerak aktifitas perekonomian. Karena itu, menguasai bahasa Arab bukan lagi sekadar kebutuhan dalam hal interaksi sosial, namun merambah aspek kepentingan materi dan keberlangsungan hidup suatu masyarakat, agar memiliki daya saing yang tinggi dengan masyarakat lainnya.Sebagai seorang Muslim, mempelajari bahasa Arab merupakan kewajiban bagi setiap individu, terlepas dari keilmuan apa yang digelutinya. Memahami dan menguasai bahasa Arab merupakan suatu keniscayaan yang harus dimiliki, karena berkaitan dengan pemahaman dan pengejawantahan norma-norma yang ada di dalam kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah saw. Untuk mendapatkan gambaran yang utuh dari syariat Islam, selayaknya seorang Muslim berusaha mengambilnya langsung dari sumber aslinya, agar tidak terjadi kerancuan dan salah pemahaman. Proyek penerjemahan berbagai literatur berbahasa Arab mungkin cukup efektif membantu para pemula dalam menciptakan imajinasi keagamaannya, namun selayaknya tidak hanya puas sampai di situ, dibutuhkan usaha lebih lanjut untuk memahami sumber aslinya. Sebagai sebuah terjemahan, tentu tidak selalu menggambarkan teks asli secara menyeluruh, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, bahwa terjemahan yang setia terhadap teks asli akan terasa kering, bahkan seringkali berkesan tidak menarik. Karena itu, penerjemah butuh improvisasi untuk memvisualkan teks asli menjadi lebih mudah dicerna, baik dengan metode penambahan, pengurangan, bahkan kalau perlu perubahan struktur yang tidak mengurangi substansi, agar lebih efektif menyampaikan pesan kepada pembaca dalam wilayah bahasa sasarannya. Karena itu, terkadang hasil terjemahan akan sangat berbeda dengan teks aslinya. Bahkan, yang lebih berbahaya, proses interpretasi teks asli dapat berubah dari konteksnya, karena minimnya kemampuan sang penerjemah menyerap pesan yang disampaikan oleh penulis aslinya dan kurang memahami uslub (struktur bahasa) yang digunakan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan berujung pada polemik berkepanjangan. Untuk itu, diperlukan kemampuan verifikasi terhadap teks sumbernya.
Penulis sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran para penerjemah, toh ilmu-ilmu dari luar bangsa Arab banyak yang diadopsi ke dalam bahasa Arab oleh para penerjemah ulungnya semisal Ibnu al-Muqaffa' dan teman-temannya, lebih-lebih para masa keemasan Dinasti Abbasiyah, namun penulis berusaha mengajak segenap umat Islam lebih concern dalam mempelajari dan menguasai Bahasa Arab, karena itu adalah salah satu faktor keabadian Al-Qur'an. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Alm. Kyai Dawam, bahwa Allah swt. memang telah berjanji akan terus menjaga keabsahan Al-Qur'an hingga akhir zaman, dan salah satu faktor terjaganya Al-Qur'an berkaitan dengan terjaganya Bahasa Arab. Jika generasi Muslim sudah tidak mau mempelajari bahasa Arab--karena merasa malu, kampungan, bahkan dianggap tidak prospektif karena menganggap belajar bahasa-bahasa Eropa lebih menjanjikan--maka dapat dipastikan bahwa Al-Qur'an dan keilmuan-keilmuan Islam hanya sekadar menjadi teks yang tidak berbunyi, ada fisiknya namun tidak bisa memberikan kemanfaatan, bisa membaca namun tidak bisa memahami, dengan begitu pengaruhnya tidak akan bisa dirasakan oleh umat. Almarhum juga pernah mengungkapkan, bahwa gerakan westernisasi yang dilancarkan oleh para misionaris sejak lama untuk meruntuhkan pengaruh Islam tidak pernah berhasil, karena dengan tindakan kekerasan justru umat Islam akan semakin kuat. Karena itu, cara yang paling efektif untuk menghancurkan Islam adalah dengan menjauhkan generasinya dari Al-Qur'an dan Hadits, dengan cara menjauhkan mereka dari Bahasa Arab. Secara otomatis, jika generasi Muslim tidak menguasai Bahasa Arab, maka mereka juga tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Qur'an, Hadits, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Karena itu, belajar Bahasa Arab menjadi tugas yang harus diemban oleh para generasi Muslim yang masih konsisten dan punya semangat untuk membumikan Al-Qur'an. Beruntungnya, hal ini masih terus dilakukan oleh pesantren-pesantren se-antero Nusantara, wa bil khusus oleh Pesantren YAPINK, yang hingga saat ini masih konsisten mengarungi dan berkonsentrasi dalam bidang Bahasa Arab dan kitab kuning. Upaya menggapai efektifitas belajar Bahasa Arab masih terus dilakukan, berbagai inovasi dan improvisasi metode terus dikembangkan, sejalan dengan arahan Alm. Kyai Dawam yang pernah mengatakan bahwa bahasa ibarat sebuah kunci yang akan membuka berbagai pintu keilmuan, dan Bahasa Arab adalah kunci untuk menggapai kemapanan dalam bidang agama. Sayangnya, harapan dan niat baik pesantren seringkali tidak bersambut dengan orientasi masyarakat modern yang semakin berpikir praktis dan materialistis. Minat untuk menjelajah tempat pendidikan hanya didasarkan pada segi keuntungan materi yang akan diperoleh. Ibaratnya, lembaga pendidikan yang tidak berorientasi mencetak generasi untuk siap bertarung di dunia kerja dianggap sebagai lembaga yang tidak bermutu. Mutu pendidikan dipahami secara sempit, hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dan mengorbankan kepentingan yang lebih besar untuk menegakkan tonggak-tonggak perjuangan Islam di masa yang akan datang. Jika seluruh lapisan masyarakat Muslim memiliki paradigma yang sama dengan konsep tersebut, kepada siapa lagi tongkat estafet perjuangan ini akan diserahkan? kepada siapa lagi masa depan Islam akan diamanahkan? dan kepada siapa lagi anak cucu kita nanti akan belajar tentang kehebatan Al-Qur'an, kepiawaian Rasulullah saw, kebijaksanaan Abu Bakar as-Shiddiq ra., ketangkasan Umar bin al-Khattab ra., kesejatian peran Utsman bin al-'Affan ra., kearifan Ali bin Abi Thalib KW, dan lain sebagainya? Mungkin ada baiknya pesantren lebih berbenah diri untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat, namun tidak serta-merta mengikuti arus sehingga pudarlah karakteristik dan idealismenya.
Siapapun anda, bagi yang memiliki semangat untuk memperjuangkan agama Islam, sekaranglah waktunya anda belajar Bahasa Arab. Tidak ada kata terlambat. Mari belajar melalui berbagai lembaga-lembaga resmi, halaqah, kursus-kursus, dan lain sebagainya. Selain itu, berbagai media pembelajaran Bahasa Arab saat ini semakin mudah untuk diperoleh, baik melalui CD interaktif, perangkat-perangkat multimedia, maupun dari situs-situs online. Mungkin cukup banyak situs yang menyediakan sarana tersebut, namun kami mencatat ada beberapa situs yang patut anda kunjungi sebagai permulaan. Silahkan kunjungi situs-situs berikut:
http://badar.muslim.or.id/
http://arabic.web.id/
http://www.nahwu.com/
http://pba.aldakwah.org/
http://jejaknahwushorof.blogspot.com/
Tersedia juga sarana tersebut di Facebook:
http://www.facebook.com/pages/Bandung-Indonesia/Belajar-Bahasa-Arab/92002408346?ref=sgm
http://www.facebook.com/pages/Yogyakarta/Bahasa-Arab-Online/93169519903?ref=sgm
Selanjutnya, anda bisa menjelajah situs-situs lain yang memiliki misi yang sama, untuk mengembangkan Bahasa Arab. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kepada kita semua dalam mengemban misi perjuangan agama-Nya. Amin.
Ahmad Kholid
Tambun, 13 Pebruari 2010
Komentar (0)
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1













