SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Jum'at Maret 24, 2017
Beranda  //  Komunitas Karya Tulis Siswa  //  Kerang Bermutiara
22
Oct 2012
Print
Email

Kerang Bermutiara

Ditulis oleh Nafilah Al-Imrani
Hits: 2466

 

Kerang Bermutiara
Sebuah Cerpen Karya: Nafilah Al-Imrani
Kelas: III MA YAPINK

 

 

kerangHamparan sawah berhektar-hektar menghiasi pemandangan di pagi hari. Dikelilingi pohon-pohon kelapa sawit dan beberapa saung tempat berteduh para petani. Burung-burung sibuk bersembunyi seraya mematuki biji padi yang menguning. Klontang! Klontang! petani langsung sigap mengusir burung-burung itu dengan suara kaleng-kaleng bekas yang dirangkai sedemikian rupa di area persawahan itu. Petani di daerahku memang terkenal rajin dan gesit. Sayang, mereka tak ubahnya seperti robot yang hanya patuh pada perintah pak Hasyim, pemilik ratusan hektar sawah di desaku. Badannya besar, kumisnya tebal, dan perutnya yang buncit. Aku kurang menyukainya. Sikapnya yang angkuh, sombong, dan serakah menjadi salah satu alasannya. Bayangkan saja, gaji para petani dalam sehari hanya 5000 perak. Apa itu cukup untuk menghidupi keluarga mereka? Tapi, mereka tak punya pilihan. Agar bisa bertahan hidup, satu-satunya jalan mereka harus bekerja di ladang pak Hasyim.

Sekarang aku sudah lulus SMA 08, namun masih ada keinginanku yang belum tercapai. Ayahku melepas topinya, ketika aku meletakkan kopi di meja. Aku berdiam diri di samping ayah.

"Ada apa Mas?", tanya ayah.

Aku menunduk. "Ayah, maaf sebelumnya Dimas berbicara seperti ini. Dimas.. Dimas ingin kuliah yah di IPB", sambil mengucapkan itu jantungku tak berhenti berdetak keras.

Ayah tersenyum bijak. "Nak, sekarang ayah ingin bertanya, kamu pilih mana menjadi kerang yang menghasilkan mutiara tetapi disiksa dahulu atau menjadi kerang yang tidak menghasilkan mutiara namun dia tidak disiksa?", tanya ayah.

Aku terdiam sejenak. "Menjadi kerang yang menghasilkan mutiara tapi disiksa yah..", jawabku mantap.

"Nak, tak mudah menjadi kerang yang menghasilkan mutiara, kamu tahu bagaimana proses kerang yang menghasilkan mutiara?"

Aku menggeleng.

"Kerang itu harus disobek dengan silet, dicepit, dilumuti, hingga kerang itu terus menangis. Namun, kau tahu tidak? air mata itu kemudian berubah menjadi mutiara yang kalau dijual harganya berjuta-juta. Kalau kau tak mau dicepit, disobek, dan dilumuti itu mudah. Namun kau akan merasakan pedihnya direndahkan orang-orang yang dijual sekilo hanya 2000 perak. Kau bisa bebas, tapi kau akan direndahkan orang lain".

"Nak.. ketahuilah, bahwa orang-orang yang sukses mendapatkan begitu banyak ujian. Air matanya selalu menetes, mereka mengadukan kesedihannya kepada Sang Maha Pencipta. Sekarang tinggal bagaimana pilihanmu", lanjut ayah.

Aku mendongak, menatap wajahnya yang semakin keriput itu. "Aku akan menjadi kerang yang pertama ayah.."

 

***

 

Esok harinya, aku diajak ayah ke rumah pak Hasyim untuk meminjam uang. Baru saja ayah selesai mengutarakan maksud kedatangan kami, ucapannya sungguh memedihkan hati.

"Baru daftar saja kau sudah pinjam, apalagi nanti kau hidup di sana, mau makan dan bayar kuliah pakai apa kau? Anak tak tahu diri!!".

Hatiku panas. Tiba-tiba ayah menjawab, "Maaf pak, anda boleh menghina saya, tapi tolong jangan hina anak saya!".

Pak Hasyim menoleh. "Berani sekali kau denganku!!", lantang pak Hasyim mengatakannya kepada ayah.

Ayahku kembali menjawab, "Kalau bapak tak ingin meminjamkan uang kepada kami, bilang sajalah. Tak perlu dengan memaki-maki!", ucapnya seraya berdiri dan menarik tanganku. Kami lalu beranjak pergi.

"Sebentar!!", terdengar suara pak Hasyim berkata. Langkah kami terhenti.

"Ambil yang kau butuhkan di Surya!", lanjutnya. Ayahku tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu kembali menarik tanganku.

 

***

 

Tepat pada bulan Oktober, delapan bulan telah berlalu. Aktifitasku sekarang saat pagi menjual koran, siangnya kuliah, dan malam hari aku ikut menjaga konter milik tetangga. Seminggu sekali aku sempatkan untuk menelepon ayah. Kadang sekadar mengirim uang sisa kerja. Tak disangka, pada semester pertama aku mendapat akumulasi nilai A+, lalu aku ditawarkan untuk ikut tes beasiswa. Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang, mengizinkan aku mendapat beasiswa itu.

Bumi terus berputar, bulan menjadi tahun, tahun berganti tahun. Tak terasa tahun terakhir kuliah telah tiba. Sudah hampir dua tahun aku berusaha mengumpulkan uang sebagai persiapan mengundang ayah ke IPB untuk melihat aku memakai toga kelulusan.

Malam itu, aku tersenyum puas sambil memegang gagang telepon. Ayah.. lihatlah! anakmu akan segera menjadi sarjana. Kini dia akan menjadi kerang yang bermutiara. Senyumku terus mengembang. Di ujung telepon sana, yang menjawab justru pamanku. Mendengar jawabannya, jantungku terasa berhenti berdetak, dan aliran darahku seperti membeku. "Apa?? a.. a.. ayah me.. meninggal?!" aku terkejut tak kuasa menahan ini semua. Tubuhku terasa lemah tak berdaya, isak tangisku menyeruak memecah kesunyian malam itu. Ya Allah, kenapa skenario-Mu jadi seperti ini? Kenapa ya Allah..?? Setelah sekian lama berjuang, dan ini saatnya ku persembahkan itu semua untuk ayah, Engkau malah mengambilnya?? Ayah.. engkau belum melihat kesuksesan hasil jerih payahmu, entahlah, kekuatan apa yang kelak bisa memotivasi diriku kembali. Aku harus pulang!

 

***

 

Sudah dua hari aku kembali  ke kampung halaman. Tak ada perubahan. Hanya satu hal yang cukup membuatku prihatin. Sawah ladang pak Hasyim yang berhektar-hektar luasnya itu kini gagal panen. Menyedihkan! gumamku dalam hati.

TOK.. TOK.. TOK..!!

Aku segera membuka pintu. "Eh, pak Surya, ada perlu apa pak ke sini?", tanyaku heran.

"Pak Hasyim memanggil kau, dia ingin meminta bantuanmu..", jawab pak Surya.

Aku terdiam sejenak. "Katakan pada bosmu, hutangku sudah lunas. Sebaiknya ia saja yang datang ke sini, bukankah ia yang butuh?", ucapku tegas.

Pak Surya mengangguk tanda setuju. Lalu ia pamit untuk menyampaikan hal itu ke pak Hasyim. Dalam hati, aku masih merasa luka dengan caci-maki pak Hasyim pada ayahku dulu, meskipun pada akhirnya ia membantu, namun bantuannya tidak ikhlas. Toh, aku dan ayah berjuang mati-matian untuk menyelesaikan pinjaman itu berikut bunganya yang berlipat-lipat hingga membuat kami merasa sangat berat. "Enak saja dia menyuruhku untuk menginjak rumahnya kembali. Aku tidak akan pernah melakukan itu lagi!. Biar dia yang datang ke gubuk ayahku ini jika dia memang butuh!", gumamku dalam hati sambil tersenyum kecut.

Tak lama kemudian, pak Hasyim dan pak Surya datang ke rumahku. Ia meminta maaf dan menyesali segala kelakuan buruknya yang lalu, dan berjanji untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Akupun memaafkannya. Kemudian ia meminta bantuanku untuk mencarikan solusi bagi permasalahan sawah ladangnya. Aku bersedia membantu.

Akhirnya, aku berupaya semaksimal mungkin untuk membantu pertanian pak Hasyim. Berbekal ilmu yang kuperoleh dari bangku kuliah, satu demi satu permasalahan itu bisa diselesaikan. Sungguh anugerah yang luar biasa dari Allah swt, setahun kemudian kami panen besar. Sepuluh petak sawah diberikan oleh pak Hasyim kepadaku sebagai tanda terima kasih.

Hari demi hari berganti, satu persatu petani yang bekerja di sawah pak Hasyim pindah bekerja di sawahku. Hal itu mungkin saja dikarenakan sikap pak Hasyim yang belum juga berubah, dan perlakuannya pada para petani membuat mereka tidak betah. Hanya kepadaku saja ia bersikap baik, karena ia punya kepentingan, sementara pada yang lain masih sama seperti dulu. Aku tidak terlalu mau ikut campur dalam hal itu.

Aku berusaha menabung, dan mulai memperluas area sawahku sedikit demi sedikit. Akhirnya panen besar menghampiriku lagi. Keuntungan yang cukup besar itu kugunakan untuk membeli 10 hektar sawah dari pak Hasyim. Waktu terus berjalan. Dengan izin Allah hasil panen kami semakin berlimpah ruah. Perluasan areal sawahku terus berjalan, hingga pada satu saat tidak ada lagi yang tersisa dari areal sawah milik pak Hasyim. Semua telah kubeli. Dalam hati aku bersyukur pada Allah swt, atas segala kebaikan-Nya padaku selama ini.

Kini lihatlah! itu adalah akhir bagi orang yang tak pernah merasakan sulit dalam hidupnya. Dan kini, aku merasakan buah manis dari kepedihan yang pernah kualami. Ayah.. Impian kita terwujud! Aku telah menjadi kerang yang bermutiara. Andai saja kau tak pernah mengatakan kata-kata bijak itu, aku tidak akan pernah jadi seperti ini. Ujian memang besar nilainya, karena hanya dengan ujian seseorang dapat membuktikan kesungguhan dan ketulusan hatinya. Bahkan, dengan ujian kita dapat membuktikan rasa cinta kepada Sang Maha Pencipta, Allah Rabbul Izzah, sebagai tempat bergantung satu-satunya dalam hidup ini.***

 

Comments   

 
0 #2 Azam Idris 2013-01-10 14:45
Ceritanya bagus :) , Di tunggu ya cerita-cerita selanjutnya. Syukron
Quote
 
 
0 #1 hasan gempur pahsya 2012-11-12 14:36
:-)
:eek:
subhanalloh.... .
Quote
 

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini13
Kemarin38
Minggu ini146
Bulan ini2093
Total96244

Saat ini ada 66 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting