SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Senin Oktober 23, 2017
Beranda  //  Komunitas Karya Tulis Siswa  //  Tangisku Untuk Bahagiamu, Umi
22
Oct 2012
Print
Email

Tangisku Untuk Bahagiamu, Umi

Ditulis oleh Rowiyah Hasan
Hits: 2621

Tangisku Untuk Bahagiamu, Umi
Sebuah Cerpen Karya: Rowiyah Hasan
Kelas: III MA YAPINK

 

kasih ibu"BLAAR !"

Umi Zulfah menutup pintu dengan keras, tak halus seperti biasanya.

"Pokoknya umi tidak setuju kalau kamu pergi ke Kairo, Zulfah!" bentak umi Zulfah ke anak perempuannya yang baru lulus dari sebuah pesantren di Jawa Tengah.

"Tapi kenapa umi, kalau umi tidak setuju seharusnya umi katakan dari awal, saat aku mulai mendaftar. Tapi kenapa baru sekarang umi melarangnya?, padahal jalan aku menuju ke sana sudah ada di depan mata", ucap Zulfah.

"Umi pikir kamu tidak akan lolos, makanya umi membiarkan kamu ikut mendaftar dan tes masuk ke sana!"

"Umi tahu kan kalau dari dulu aku memang ingin melanjutkan studiku di sana, aku ingin membanggakan umi!"

"Kalau umi bilang jangan ya jangan! Ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua, Zulfah. Kamu pasti sudah mengerti itu!" ucap umi Zulfah lantas keluar dari kamar Zulfah.

"Astaghfirullahal azhim umi… hik.. hik.. hik.." tangis Zulfah pecah di dalam kamarnya.

Kaila, kakak perempuan Zulfah yang baru pulang dari masjid setelah sholat isya kaget ketika masuk ke kamar adiknya.

"Zulfah, kamu kenapa? kok nangis sih? seharusnya kan kamu seneng karena sebentar lagi kamu akan pergi ke Kairo", Kaila menenangkan.

"Umi kak, umi melarang aku.. hik.. hik.. hik..!" jawab Zulfah dalam isak tangisnya.

"Apa? umi melarangmu? bukannya umi setuju-setuju saja kalau kamu pergi ke Kairo?"

"Aku juga enggak tahu kak, kenapa bisa jadi begini, aku bingung!" jawab Zulfah sekenanya.

"Ya Allah, kenapa jadi begini, kenapa umi tiba-tiba saja tidak setuju. Kasihan Zulfah. Sebaiknya aku tanyakan saja langsung ke umi agar aku tahu penyebabnya", gumam Kaila dalam hati sambil mengelus-elus wajah Zulfah yang basah dengan air mata. Kaila pun beranjak keluar dari kamar Zulfah.

Saat malam datang dengan membentangkan jubah kegelapannya, Zulfah bangun untuk sholat malam. Dalam doanya, ia meminta agar diberikan petunjuk atas masalahnya tersebut. Selesai sholat malam, Zulfah melanjutkannya dengan membaca Al-Qur'an dan ditutup dengan berzikir, hingga tak terasa ia tidur kembali.

 

***

 

"Law samah, bikam es-syarith dah?"
"Dah bi sab'ah gunaihat!"
"Ghali awi.."
"La ya anisah, dah gadid!"
"Arba'ah mumkin?"
"Musy mumkin, ma'lesy"
"Khamsah mumkin? la azidak tani!"
"La ah, musy mumkin"

 

"Ka Zulfah, ka Zulfah, ayo bangun! Kakak sudah sholat tahajjud belum?", ucap Aisyah adik bungsu Zulfah yang baru berusia 10 tahun.

"Aisyah?" ucap kaget Zulfah yang baru bangun dari tidur.

"Kakak sudah sholat tahajjud kok tadi, Aisyah sholatnya bareng umi dan kak Kaila saja ya", sambung Zulfah.

"Baik kak!", jawab Aisyah lantas keluar dari kamar Zulfah. "Ya Allah, apa maksud semua ini?" gumam Zulfah dalam hati.

 

***

 

Pagi datang dengan sinarnya yang kemilau. Sejak semalam, umi Zulfah tidak berbicara sama sekali kepadanya. Zulfah merasa bingung.

"Kak Zulfah, sama umi disuruh makan tuh!", ucap Aisyah dari balik pintu luar kamar Zulfah.

"Iya..!", jawab Zulfah sambil membuka pintu kamarnya. "Kamu sudah makan?", lanjut Zulfah.

"Sudah kak, tadi aku sama umi makan di belakang rumah, sambil lihat si gendut, sekarang dia sudah malas kemana-mana kak, perutnya tambah besar deh. Kayaknya beberapa hari lagi si gendut mau melahirkan. Semoga saja anaknya kembar kayak kucing si Ani kak, kembar semua anaknya!".

"Iya Aisyah, tapi nanti kalau si gendut lahir, kamu yang bayar ya biaya persalinannya!"

"Kakak ini bisa aja, emangnya si gendut mau lahir di mana, di bidan?" ucap Aisyah kesal, lalu pergi ke belakang. Zulfah tersenyum melihat tingkah adiknya.

 

 

***

 

"TOK TOK TOK.."

"Assalamu 'alaikum. Umi, ini Zulfah umi, Zulfah mau bicara sama umi. Zulfah masuk ya?"

"Umi lagi tidak enak badan. Nanti saja bicaranya!" balas umi Zulfah dari dalam kamar.

"Iya, umi, maaf kalau Zulfah sudah mengganggu umi".

Adzan sholat isya pun berkumandang. Zulfah sholat sendiri di dalam kamarnya. Selesai sholat, ia lanjutkan berzikir menyebut nama Allah, bersholawat kepada Nabi Muhammad, dan berdoa untuk abinya yang sudah meninggal dan untuk uminya agar ditenangkan hatinya. Tak diduga, air matanya jatuh menetes di pipi hangatnya. Ia mengadu pada Allah, bahwa keinginannya untuk studi ke Kairo semata-mata untuk membahagiakan uminya. Tanpa ia ketahui, tenyata umi sedang memperhatikannya lewat celah pintu yang terbuka. Umi tertegun mendengar doa anaknya. Lalu ia beranjak dan kembali ke kamar. Di dalam kamar, umi Zulfah merenungi segala hal, terutama pertimbangan yang disampaikan anak pertamanya, Kaila, saat tadi pagi menemuinya.

Malam berselimutkan awan nan indah, berhiaskan bintang-bintang di atasnya, dan bulan yang menggantung, benar-benar sangat mempesona. Belaian lembut angin malam itu membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah untuk menikmati malam purnama.

 

***

 

Pagi datang dengan sangat cepat bagi keluarga Zulfah. Hari ini Zulfah berencana untuk bicara kepada uminya soal studinya ke Kairo yang tidak disetujui. Tadi malam ia bermimpi hal yang sama seperti malam sebelumnya. Ia bermimpi sedang tawar-menawar dengan seorang penjual kaset di daerah Arab. Zulfah lalu menemui uminya yang sedang membaca Al-Qur'an di ruang tengah.

"Umi, Zulfah mau bilang sama umi kalau Zulfah tidak mau meneruskan studi di Kairo. Lebih baik Zulfah meneruskan studi di sini saja. Masalah biaya umi tidak usah pusing, Zulfah masih punya tabungan. Insya Allah nanti Zulfah akan mencari pekerjaan dan uangnya akan Zulfah sisihkan untuk biaya Zulfah kuliah".

"Mengapa harus mencari kuliah yang berbayar kalau kuliah di Kairo kamu bisa gratis mendapatkannya?", ucap Kaila yang baru keluar dari kamar.

"Maksud kakak?", tanya Zulfah serius.

"Insya Allah umi ikhlas Zulfah, meskipun berat tetapi umi akan mencoba untuk mengikhlaskanmu", jawab umi menengahi pembicaraan.

"Beneran umi? umi setuju kalau aku ke sana?", tanya Zulfah dengan senyumnya yang mulai merekah.

"Iya, Zulfah. Memangnya kapan kamu pergi ke sana?"

"Insya Allah dua minggu lagi umi", jawab Zulfah tersenyum, lalu ia segera menghampiri uminya, memeluknya dengan perasaan bahagia.

 

***

 

Dua minggu pun berlalu.

Tibalah saatnya Zulfah berangkat ke Kairo. Suasana haru bercampur bahagia berbaur menjadi satu di bandara. Terlebih, Zulfah tidak bisa berpamitan kepada uminya untuk yang terakhir kali sebelum ia berangkat, karena umi tidak bisa mengantar ke bandara. Ia terbaring sakit di rumah. Sangat berat bagi Zulfah untuk meninggalkannya. Lagi-lagi kesabarannya diuji oleh Allah swt. Namun, ia harus tetap tegar berjalan untuk meraih cita-cita. Berangkat ke tujuan yang diimpikan banyak orang untuk melanjutkan studinya. Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

 

***

 

Genap satu tahun terlewati. Zulfah mendengar kabar bahwa uminya belum juga sembuh sejak keberangkatannya. Hasratnya ingin segera kembali ke tanah air, tapi umi mencegahnya. Umi ingin agar Zulfah menyelesaikan kuliahnya lebih dahulu.

Dua, tiga tahun berjalan. Kabar kesembuhan umi belum juga ia dengar, meski kakak dan keluarganya sudah berusaha maksimal memberikan pengobatan terbaik untuk umi.

Tahun keempat. Sesaat menjelang ujian terakhir, Aisyah mengiriminya surat.

"Assalamu 'alaikum kak Zulfah. Semoga kakak selalu sehat di sana. Maaf kalau aku ngomongnya tanpa basa-basi. Aku ingin memberi tahu kakak soal keadaan umi, sekarang sakit umi semakin parah kak. Aisyah takut terjadi apa-apa sama umi, makanya Aisyah mohon sama kakak segeralah pulang setelah kakak menyelesaikan studi. Hampir setiap malam umi selalu memanggil nama abi dan kakak. Aisyah takut kak kalau umi segera menyusul abi. Makanya kakak cepat pulang, ya. Kak Kaila minta maaf kalau kiriman uangnya sering telat, soalnya uangnya terpakai untuk biaya berobat umi. Itu saja yang ingin Aisyah bilang sama kakak, kakak jangan lama-lama ya di sana. Salam hangat dan rindu dari Aisyah, kak Kaila, dan umi. Kami semua merindukan kakak. Wassalamu 'alaikum wr. wb."

Selesai membaca surat, Zulfah tak kuat menahan rasa sedihnya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Semua kegundahan bercampur menjadi satu. Ia bertekad segera menyelesaikan studinya dengan hasil terbaik, dan segera pulang ke rumah.

Ujian terakhir Zulfah lewati dengan perasaan bercampur-aduk, namun ia berusaha dapat melaluinya dengan baik. Berlembar-lembar diktat tebal itu berusaha ia kuasai, dan malam-malamnya penuh dengan airmata dalam doanya kepada Allah swt. agar berkenan memberi kesembuhan untuk uminya.

 

***

 

Hari terakhir ujian. Zulfah menyelesaikannya, lalu bergegas pulang ke rumah kos. Ia segera berkemas merapikan barang-barangnya ke dalam koper besar. Ya, hari inilah waktu yang ia tunggu-tunggu. Tiket pulang sudah dipesannya sejak jauh hari, dan nanti malam pesawat Emirates Airlines akan membawanya pulang ke Indonesia.

Perjalanan yang melelahkan, akhirnya Zulfah tiba di bandara Soekarno-Hatta pada pukul 19:00 WIB. Tidak ada yang menjempunya di bandara, Zulfah pulang seorang diri ke rumahnya. Tiba di rumah, ia begitu kaget ketika ia melihat banyak sanak saudara yang sudah berkumpul.

"Astaghfirullahal 'Azhim.. kenapa banyak sekali orang di sini?"

"Kak Zulfah..!!", seru Aisyah dari dalam rumah yang segera menghampiri kakaknya dan langsung memeluknya.

"Aisyah, kenapa? Aisyah kok menangis?", ucap Zulfah sambil mengelus-elus kepala adiknya.

"Aisyah menangis karena Aisyah senang kakak sudah kembali.. tapi Aisyah juga menangis karena umi kak.. umi.. hik.. hik.. hik.." tangis Aisyah pecah dalam pelukan Zulfah.

"Umi kenapa Aisyah? Bicara yang jelas sama kakak!" Zulfah panik.

"Ayo, kakak lihat saja sendiri keadaan umi, ayo kak!" ajak Aisyah sambil menarik tangan kakaknya.

Begitu masuk ke dalam rumah, Zulfah langsung menemui uminya yang sedang berada di dalam kamar. Keluarga yang lain segera menghampiri Zulfah, memeluknya dan menciuminya. Lalu mereka memberikan ruang padanya bersama uminya. Tangis Zulfah pecah saat ia melihat uminya yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya.

"Umi.. ini Zulfah umi.. ini Zulfah.. Zulfah minta maaf sama umi kalau gara-gara Zulfah umi jadi begini. Maafkan Zulfah umi..", ucap Zulfah sambil mencium tangan uminya dan terisak-isak dalam tangisnya.

Air mata Zulfah membasahi tangan umi. Ya, air mata yang begitu dirindukannya. Getar kerinduan itu kembali menyatu. Tidak terduga tiba-tiba umi membuka matanya yang berhari-hari telah terpejam karena penyakitnya yang begitu berat. Seakan ada dorongan semangat yang sangat kuat untuk melawan ketidakberdayaan selama ini.

"Zulfah.. kamu sudah kembali nak..? umi sangat senang kamu sudah kembali, akhirnya semua anak umi sekarang sudah berkumpul semua..", ucap umi Zulfah dengan sangat perlahan.

"Umi.. kenapa bicara seperti itu? sebaiknya umi istirahat kembali..", ucap Kaila yang berada di samping uminya.

"Iya umi, ini sudah malam. Sebaiknya umi istirahat kembali. Zulfah janji akan menemani umi di sini", sahut Zulfah.

Umi Zulfah pun tertidur kembali. Saat semua sanak saudara sedang beristirahat, Kaila membangunkan Zulfah untuk sholat tahajjud. Dalam sholatnya, Zulfah dan kakaknya berdoa untuk kesembuhan umi. Selesai sholat dan doa, keduanya terlelap di samping umi dengan mukena yang masih mereka kenakan.

 

***

 

"Umi.. Abi..?"

"Zulfah, kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu temani kakakmu dan adikmu di sana!", ucap umi Zulfah.

"Memangnya umi mau kemana bersama abi?"

"Umi mau ikut dengan abi, Zulfah. Kata abi, di sana lebih enak".

"Di sana di mana umi? Kalau umi pergi dengan abi lalu kami di rumah bersama siapa? Siapa yang akan mengurus kami nanti?"

"Maafkan umi, Zulfah.."

"Nggak.. pokoknya umi nggak boleh pergi.. kami belum sempat membahagiakan umi.. Zulfah ingin umi melihat Zulfah mengajar dan menjadi orang sukses. Zulfah mohon umi, umi jangan pergi ke mana-mana.. temani kami karena kami masih sangat membutuhkan umi.. Zulfah mohon.. hik.. hik.. hik..". Zulfah menangis di depan uminya.

Umi Zulfah melirik ke arah abi, abi hanya tersenyum.

 

***

 

Adzan subuh berkumandang begitu lantang.

"Kaila.. Zulfah.. ayo bangun nak.. kita sholat subuh berjamaah!"

Zulfah dan Kaila terperanjat mendengar suara itu.

"Umi? Umi sudah sehat??", tanya Kaila dan Zulfah berbarengan.

"Alhamdulillah, dengan izin Allah, umi merasa sudah lebih baik. Umi ucapkan terima kasih banyak kepada anak-anak umi yang sudah merawat umi selama ini, terima kasih atas doa kalian semua..", jawab umi sambil tersenyum dan bangun dari tempat tidur.

"Subhanallah.. umi…!!", seru Zulfah dan Kaila bersamaan, lantas memeluk uminya.

"Umi sudah sehat?? Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya umi sehat..!!", ucap Aisyah yang baru saja datang ke kamar dan langsung berlari memeluk umi dan kedua kakaknya.

"Sekarang kita sholat berjamaah yuk..!!", ajak umi Zulfah.

Keluarga yang kembali mendapatkan kebahagiaan itupun bersama-sama melaksanakan sholat subuh berjamaah. Bersama sanak keluarga dan famili lainnya mereka melaksanakan sujud syukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah swt. Suasana haru dan sukacita kembali menghampiri mereka, dan senyum merekahpun kembali hadir di tengah-tengah keluarga ini.***

 

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini38
Kemarin36
Minggu ini38
Bulan ini1046
Total104472

Saat ini ada 19 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting