SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Jum'at Mei 25, 2018
Beranda  //  Komunitas Karya Tulis Siswa  //  Selama Bintang Bersinar
03
Jun 2012
Print
Email

Selama Bintang Bersinar

Ditulis oleh Nafilah Al-Imrani
Hits: 3114

Selama Bintang Bersinar Roda Kehidupan Selalu Berputar
Sebuah Cerpen Karya: Nafilah Al-Imrani

 

bintangMatahari begitu menyengat, panas terasa membakar kulit. Namun, panas tak terasa beban bagi manusia yang berbondong-bondong mencari nafkah. Orang-orang begitu sibuk mencari nafkah, memadati ibukota Jakarta.

"Panasnya matahari dan debu kota ini, kami bernyanyi di sini..", Suara itu terdengar begitu cempreng dengan diiringi gitar kecilnya. Tangan kecil itu terus memetik senar gitar kecilnya, wajahnya penuh dengan keringat. Setelah bernyanyi, orang-orang yang merasa terhibur memberinya uang receh. Kaki kecil itu segera melompat turun dari bus kota dan berlari pulang.

"Satria?!" sapa kakek tua yang sedang sibuk mencuci gerobak sampah.

Satria. Ya, itulah nama bocah kecil itu yang berumur baru 8 tahun namun sudah mengecap pahitnya hidup di dunia. Satria menoleh dan tersenyum. Cukup banyak rasa pahit telah ia rasakan, berawal dari ibunya meninggal saat melahirkannya, dan ayahnya yang meninggal karena kecelakaan.

Yah, begitu tragis. Tapi Satria tak pernah menganggapnya sebagai beban dengan kehadiran kakek, Bang Eka, dan Mang Ujang yang selalu menyayanginya. Satria selalu ingat kata-kata kakek padanya, "Kakek yakin!! Kelak kamu besar kamu akan menjadi orang hebat!!". Satria hanya tersenyum mendengar ucapan kakeknya itu. Ditambah lagi ucapan Bang Eka yang selalu muncul di benaknya saat hatinya lelah, "Satria, selama bintang bersinar, roda kehidupan akan selalu berputar". Sangat menyentuh.

Di balik semua itu, Allah begitu adil. Allah ciptakan akalnya sangat cerdas. Saat pagi tiba, ia pergi ke SDN 1 hanya untuk ikut belajar lewat jendela belakang sekolah. Sering guru memergokinya, namun mereka tak pernah menegurnya dan membiarkan Satria ikut belajar. Sepulang dari SDN 1, Satria berlari menuju sawah belakang sekolah elit SDN Pusaka. Bernyanyi di gubuk sambil menatap langit yang biru. Memetik senar menyanyikan lagunya. "Dunia masih berputar.. ada saatnya kita harus berubah.. ikhlaskan segalanya.. di dunia..".

 

Plok.Plok.Plok. Terdengar tepuk tangan yang membuatnya menoleh.

 

"Suara kamu bagus ya.." ucap seorang anak laki-laki seumurnya.
"Siapa kamu?" tanya Satria.
"Aku Mario!!", jawabnya. Satria menatapnya dari bawah ke atas.
"Kamu bukannya anak SDN Pusaka?" Satria kembali bertanya. Mario mengangguk tersenyum.
"Kamu enggak sekolah?" tanya Satria sambil mengerenyitkan dahinya.
"Enggak, aku malas!" jawabnya ringan.
Satria tersenyum kecut. "Aku yang dilahirkan miskin tapi aku ingin sekolah. Kamu yang orang kaya, kok malah enggak mau sekolah? kamu lihat deh langit biru itu!!" ujar Satria sambil menunjuk ke arah langit.
"Kamu enggak mau jadi langit yang selalu indah dilihat?" ujar Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mario hanya terdiam mematung. Satria bergerak hendak meninggalkan gubuk itu.
"Hei, tunggu!!" panggil Mario seraya mendekat ke arah Satria.
"Boleh aku jadi temanmu?" tanya Mario sambil mengulurkan jari kelingking mungilnya.
Satria tersenyum dan menerima kelingking Mario.

 

*****

 

Sejak saat itu, Mario dan Satria bersahabat. Persahabatan antara anak pengusaha kaya dengan anak jalanan. Banyak hal yang Satria ajarkan kepada Mario tentang arti kehidupan. Hingga suatu hari Mario tertarik untuk ikut mengamen, Satria tidak bisa menolak. Mereka menelusuri ruko-ruko yang berjajar di pinggir jalan. Satria berhenti melihat tiga orang laki-laki berjas hitam.

"Mario, itu bukannya papa kamu?" seraya menunjuk ke arah seorang laki-laki berjas itu.
"Iya, benar. Ayo kita ke sana!" ajak Mario lalu mendekati papanya yang sibuk mengobrol dengan rekan-rekannya.
"Papa..!!" sapanya. Papanya terkejut sambil menatap anaknya yang berpakaian lusuh dan membawa gitar kecil milik Satria. Rekan-rekannya langsung berdiri, "Maaf, sepertinya kami bekerja sama dengan orang yang salah" kata salah seorang dari mereka.
"Maaf pak, ini hanya..." ucapan papa Mario tak dihiraukan oleh rekan-rekannya itu.
"MARIO!! KAMU BIKIN PAPA MALU!!" bentak papa Mario dengan wajah memerah.
"Bikin malu apa pa?" jawab Mario tak mengerti.
"Ayo pulang!! dan kamu jangan main sama anak jalanan ini lagi!!" jawab papa sambil menarik lengan Mario.
"Tapi pa, Satria.." belum sempat Mario meneruskan ucapannya.
"Dan kamu Satria, mulai saat ini jangan dekati anak saya lagi!! Karena kamu, bisnis saya gagal!!" ujarnya dengan suara menggelegar. Papa menarik tangan Mario dan memaksanya masuk ke dalam mobil.

Begitu sakit hari Satria mendengar makian papa Mario. Malam itu, bintang begitu bersinar, seakan-akan ikut menghibur hati Satria yang sakit. Satria menceritakan semua ke Bang Eka. "Satria, kamu enggak perlu sedih. Lihat bintang yang bersinar itu dia begitu terang seakan menghibur kamu", ujar Bang Eka menenangkan dan menunjuk ke langit hitam.
"Satria heran bang Eka, kenapa harus ada perbedaan antara kaya dan miskin. Apa orang kaya akan selalu bersama orang kaya? Kalau begitu kenapa harus Satria yang menjadi orang miskin?" jawab Satria sambil terisak.
"Terus kamu akan bilang Bang Eka bahwa Allah enggak adil?" tanya Bang Eka sambil tersenyum.
Satria hanya menunduk.
"Apa pernah Bang Eka dan kakek mengajarkan kamu bahwa Allah enggak adil?" Bang Eka bertanya lagi.
Satria hanya menggeleng.
"Satria.. kita masih hidup saja sudah cukup. Itu salah satu tanda keadilan Allah".
Satria merangkul Bang Eka. "Maafin Satria bang..".

Tiba-tiba, Mang Ujang berlari dan membawa berita bahwa kakek masuk ke rumah sakit. Satria langsung berlari diikuti Bang Eka. Satria pernah berjanji pada kakek bahwa dia tidak akan meneteskan air matanya di depan kakek. Tapi entahlah, air mata itu tak dapat dibendung lagi.

 

*****

 

Pagi yang cerah itu, Satria bersiap-siap ikut lomba cerdas cermat. Ya, sudah enam bulan ini Satria ikut sekolah atas bantuan dari Kepala Sekolah SDN 1, Ibu Cyntia. Ibu Cyntia sangat menyayangi Satria seperti anaknya sendiri karena keteguhan hatinya.

"Kakek lihat nanti, Satria janji bakal menangin lomba cerdas cermat ini" kata Satria kepada kakek yang masih terbaring lemah di UGD. Kakek hanya tersenyum mendengarnya.

Ternyata benar. Satria keluar sebagai pemenang. Ia berlari menuju ke RSUD tempat kakeknya dirawat sambil mengusung pialanya. Melewati jendela ruang UGD, tiba-tiba "Prang!!" piala terlepas dari tangannya dan jatuh berserakan. Kakinya terasa lemas melihat kakeknya ditutupi kain putih. Satria berlari merangkul kakeknya. Kali ini airmatanya tak dapat ia simpan lagi. Semua keluar ruangan itu dengan hati yang pilu.

 

*****

 

Seiring waktu berlalu, kini tiada lagi canda persahabatan, tak ada lagi senyuman hangat dan kasih sayang dari kakek. Semua hilang entah ke mana. Satria sekarang tinggal bersama Ibu Cyntia. Sekarang Satria bukan lagi Satria kecil yang malang. Ia menjadi remaja yang penuh kerja keras demi meraih cita-citanya. Perjalanan studinya sangat baik dan berprestasi, hingga ia meraih gelar mahasiswa lulusan terbaik di jurusan arsitektur Universitas Indonesia. Setelah itu, banyak orang mencarinya untuk bekerja sama dalam membuat bangunan-bangunan megah. Prestasinya yang gemilang membuatnya terpilih menjadi pimpinan cabang salah satu perusahaan bonafid di Jakarta.

Suatu hari, terjadi keributan di gerbang kantor yang dipimpin oleh Satria. Keributan itu terjadi cukup lama hingga Satria keluar dari ruangannya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

"Ada apa ini?" tanya Satria kepada satpam yang menjaga.
"Ini pak, pengemis ini memaksa untuk bertemu dengan bapak" jawab satpam.
"Maaf pak, anda siapa?" tanya Satria kepada pengemis itu dengan ramah.
"Nak Satria.. ini saya Pak Hendra, papanya Mario" jawab pengemis itu.
Satria terkejut, ia membawa pengemis itu masuk ke dalam ruangan. Ia menjamunya sambil berbincang-bincang.
"Nak Satria.. Mario sudah tiada. Dia terkena penyakit jantung" ucap Pak Hendra.
Satria langsung lemas dan menjatuhkan gelasnya. Hatinya terasa luka seperti dulu saat kakeknya meninggal. Obrolan terus berlanjut dalam suasana penuh kekerabatan. Setelah itu, Satria memberikan santunan kepada Pak Hendra atas persahabatan baiknya dengan Mario.

Begitulah. Sekarang ucapan Bang Eka dulu benar-benar menjadi kenyataan. Roda kehidupan akan selalu berputar. Bisnis Pak Hendra bangkrut, seluruh hartanya disita oleh bank. Satria yang dulu menjadi anak jalanan kini telah menjadi seorang bos besar yang peramah dan penyantun. Hal itu karena ia pernah merasakan masa-masa sulit, dan tidak ingin orang lain senasib dengannya. Roda kehidupan akan selalu berputar, selama bintang-bintang masih bersinar indah dan ramah menyapa kita. []

 

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini18
Kemarin17
Minggu ini90
Bulan ini566
Total111504

Saat ini ada 30 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting