SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Selasa Februari 28, 2017
Beranda  //  Blog  //  Dinamis  //  Benci dengan Kelahiran Nabi Muhammad saw. Adalah Orang Yahudi

keuntunganJika anda bertanya, apa keuntungan belajar di YAPINK? Keuntungan yang akan anda peroleh akan sangat bervariasi, dapat berupa keuntungan finansial, efektifitas, dan kualitas. Beberapa keuntungan yang dapat anda jadikan bahan pertimbangan antara lain: Selanjutnya..

kitab kuningSemakin banyak sekolah-sekolah Islam yang meninggalkan kitab kuning. Hal itu dapat berarti semakin jauh umat Islam dari sumber ilmunya yang otentik. Belum lagi berbagai citra negatif yang dilontarkan tentang kitab kuning, semakin mengikis minat umat untuk mempelajarinya. Selanjutnya..

karakteristikSebagai salah satu perguruan Islam tertua di Bekasi, YAPINK memiliki kekhasan dan karakteristik khusus yang membedakannya dengan lembaga lain. Kekhasan tersebut telah digariskan sejak awal oleh para pendirinya, dan terus dipertahankan hingga kini. Selanjutnya..

muhammadDi antara media dakwah bagi sebagian umat Islam adalah dengan menyelenggarakan peringatan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peringatan tersebut bertujuan mengingatkan umat Islam terhadap peristiwa yang dimaksud, untuk dihayati, diambil hikmahnya dan ibrah-nya sebagai bekal untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara peristiwa penting yang sering diperingati oleh umat Islam adalah peristiwa kelahiran Nabi Muhammad saw. yang sering disebut “Peringatan Maulid Nabi”. Di berbagai belahan dunia—secara umum—umat Islam memperingati peristiwa tersebut dengan menampakkan rasa syukur, kegembiraan, dan suka-cita dengan datangnya hari kelahiran Nabi yang dipuji oleh Allah swt akan akhlaknya yang mulia.

A. Peringatan Peristiwa Penting dalam Agama Islam

Mengingat-ingat dan memberitahukan peristiwa penting adalah perbuatan mulia. Dalam Al-Qur`an maupun Hadits terdapat dorongan bagi umat Islam untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting.

 

1. Sumber Al-Qur’an

Allah swt. berfirman:

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 30)

 

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah: 30)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menafsirkan maksud ayat di atas sebagai berikut: “Ingatlah wahai Muhammad, ketika Allah berfirman kepada para malaikat dan ceritakanlah peristiwa itu pada umatmu”1. Semakna dengan penafsiran tersebut, Ash-Shawi menukil penafsiran ahli tafsir yang menafsiri dengan: “Ingatlah wahai Muhammad kisah firman Tuhanmu …. sampai terakhir”2.

Masih banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang mengandung perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa penting masa lalu yang memiliki hikmah besar bagi umat manusia.

 

2. Sumber Hadits Nabi

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلمَدِيْنَةَ فَرَأَى الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوْسَى قَالَ : فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

 

"Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Nabi saw. datang ke kota Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari kesepuluh (bulan Muharram). Ia bersabda, “Apa-apaan ini?”, Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, hari diselamatkannya Bani Israil dari musuh mereka, sehingga Musa berpuasa.” Nabi bersabda, “Aku lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian”, kemudian Nabi berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (para sahabatnya) untuk berpuasa". (HR. Bukhari dan Muslim)3

Dalam Hadits tersebut, Rasulullah ikut memperingati peristiwa besar 10 Muharram, yaitu peristiwa kemenangan Musa dan pengikutnya, serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya.

Ada pula Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah al-Anshori:

 

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ قَالَ ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ

 

"Dan Nabi Muhammad ditanya tentang puasa hari Senin, Nabi menjawab,”Pada hari itu aku dilahirkan, dan hari (pertama kali) aku diutus (sebagai Nabi)".4

Dalam Hadits ini, Nabi menerangkan mengenai salah satu alasan beliau melakukan ibadah puasa di hari Senin, antara lain karena beliau dilahirkan pada hari tersebut. Berarti, hari kelahiran beliau oleh beliau sendiri tidak dilupakan, bahkan diberi kekhususan yaitu dengan berpuasa.

 

B. Sekilas Kelahiran Nabi

Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah saw dilahirkan pada hari Senin, tanggal dua belas Rabi’ul Awwal di tahun gajah (‘âm al-fîl)5. Tahun gajah adalah tahun terjadinya upaya Abrahah al-Asyram untuk merobohkan Ka’bah, tetapi Allah menggagalkan dengan tanda kekuasaannya yang mengalahkan, yang digambarkan dalam Al-Qur’an.6

Setelah melahirkan anaknya, Ibunya Aminah, mengabarkan kepada kakeknya Abdul Muthallib, “Sungguh telah lahir untukmu seorang anak laki-laki, datang dan lihatlah!” Maka Abdul Muthallib mengunjungi dan melihatnya, Aminah menceritakan apa yang ia lihat dalam mimpinya ketika ia mengandung anaknya, kemudian dikatakan kepadanya arti mimpi itu, dan diperintahkannya untuk bersadaqah uang7.  Lalu Abdul Muthallib mengambil anak itu, kemudian membawanya masuk ke Ka’bah. Ia berdiri dan berdoa kepada Allah swt. dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya, kemudian keluar menuju ke ibunya dan menyerahkannya, lalu Abdul Muthallib mencarikan untuknya perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai tukang menyusui.8

 

C. Segi-segi Penting Peringatan Kelahiran Nabi

Memperingati kelahiran Nabi atau maulid Nabi sama sekali tidak dilatarbelakangi oleh keinginan menyerupai kebiasaan umat lain. Memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah murni keinginan umat Islam, dengan berbagai tujuan yang luhur, di antaranya:

 

1. Menampakkan kegembiraan atas rahmat dan karunia Allah

Dalam hal ini Allah swt. berfirman:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: 58)

 

"Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".  (QS. Yunus: 58)

Di samping turunnya Al-Qur’an adalah merupakan rahmat, kehadiran Nabi Muhammad saw. di alam semesta ini juga termasuk rahmat, Allah swt. berfirman:

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ (الأنبياء: 107)

 

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".  (QS. Al-Anbiya`: 107)

Al-Hafidh Jalaluddin as-Suyuthi menulis:

“Sesungguhnya terdapat riwayat sahih bahwa Abu Lahab diringankan azabnya di neraka tiap malam Senin, karena ia memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, yang membawa kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad kepadanya. Maka, jika Abu Lahab saja yang dicela dalam Al-Qur`an dibalas (dengan keringanan siksa) di neraka, maka bagaimana jika orang Islam yang bertauhid dari umat Muhammad bergembira dengan kelahiran Nabi dan menggerakkan upaya meningkatkan derajat cintanya kepada Nabi?”.9


2. Menghormati Arti Kehadiran Nabi Muhammad

Dalam beberapa ayat, terdapat kandungan yang memotivasi kita untuk menghormati Nabi Muhammad saw, karena beberapa ayat tersebut berisi pujian Allah swt. kepada beliau. Kalau Allah sebagai pencipta memujinya apalagi kita yang termasuk para pengikutnya. Di bawah ini ayat-ayat yang dimaksud:


a. QS. Al-Hujurat ayat 2:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ تَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُوْنَ (الحجرات: 2)

 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.


b.  QS. An-Nur ayat 63:

 

لاَ تَجْعَلُوْا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (النور: 63)

 

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih".

 

D. Penghormatan Ulama Salaf Kepada Nabi Muhammad saw.

Di antara ulama salaf yang banyak dikenang dan sangat disegani adalah Imam Malik bin Anas ra. (39 H-179 H). Sekalipun beliau memiliki kekuatan ilmu yang hampir tak tertandingi pada zamannya, namun beliau tetap rendah hati dan menghormati Nabi Muhammad saw.

Diriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i ra. berkata, “Pada suatu hari, saya melihat beberapa ekor kuda yang bagus dari negeri Khurasan dan beberapa ekor bighal yang bagus dari negeri Mesir di samping rumah Imam Malik ra. Ada pula seekor kuda yang bagus di muka rumah beliau yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya pun berkata, “Alangkah bagusnya kuda ini!”. Ketika mendengar ucapan muridnya yang setia, Imam Malik ra. berkata, “Inikah yang akan saya berikan kepadamu, hai Abu Abdillah (panggilan Imam Asy-Syafi’i ra.)”. Saya berkata, “Biarlah itu untuk tuan guru, untuk kendaraan tuan sendiri”. Imam Malik berkata, “Demi Allah, saya merasa malu kehadirat Allah bila menginjak tanah Rasulullah saw, dengan kaki kuda saya”.10

 

E. Orang Yahudi Benci Kelahiran Nabi saw.

Sekalipun orang-orang Yahudi berada jauh di Yatsrib (Madinah) mereka tahu tanda-tanda alam yang memberitakan kelahiran Muhammad berdasarkan kitab-kitab yang mereka pelajari, sehingga ketika Muhammad lahir, mereka yang pertama bereaksi atas kelahirannya.

Ibnu Hisyam menukil riwayat Hasan bin Tsabit ra., salah seorang sahabat Nabi yang pandai bersyair, ia menuturkan, “Demi Allah, saya adalah anak kecil yang hampir balig, berumur tujuh atau delapan tahun. Aku mengerti apa yang aku dengar. Ketika itu aku mendengar teriakan seorang Yahudi dengan suara sangat lepas di atas benteng di Yatsrib, ‘Wahai golongan orang-orang Yahudi!’, sampai ketika orang-orang Yahudi berkumpul mereka berkata, “Celaka kamu apa yang terjadi padamu?”, orang Yahudi itu menjawab, “Semalam telah terbit bintang Ahmad, dia lahir dengan tanda bintang itu”.

Riwayat di atas menunjukkan ketakutan dan rasa tidak suka orang-orang Yahudi dengan kelahiran Muhammad saw. Rasa tidak suka itu kemudian terbukti dalam perilaku mereka yang selalu menunjukkan sikap permusuhan dan menjadi komunitas yang selalu membantu proses perlawanan terhadap Islam.

Sudah barang tentu, umat Islam harus menunjukkan sikap yang berbeda dengan sikap orang-orang Yahudi ketika bereaksi atas kelahiran Nabi Muhammad saw. Sekali lagi, umat yang memperlihatkan kebencian dengan kelahiran Muhammad saw. yang pertama kali adalah umat Yahudi. Siapa yang ingin seperti Yahudi? Naûdzu billâh. []

 

Catatan Akhir

1 Ad-Dimasyqi, Abu al-Hafidh Ibn Katsir, 1992, Tafsîr Al-Qur`ân Al-‘Azhîm, Beirut: Dâr al-Fikr. Jilid I, hal: 30.
2 Al-Maliky, Ahmad Ash-Shawi, tt., Hâsyiyah ash-Shâwy ‘alâ Tafsîr al-Jalalain, Beirut: Dâr al-Fikr. Jilid I, hal: 19.
3 Al-Baqqy, Muhammad Fuad, 2005, Al-Lu’lu’  wa al-Marjân, Kairo: Dâr al-Hadits, hal: 210.
4 An-Naisabury, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi, 1992, Shahîh Muslim, Beirut: Dâr al-Fikr. Jilid I, hal: 520. 
5 Ibnu Hisyam, tt., As-Sîrah an-Nabawiyyah, Beirut: Dâr al-Fikr. Hal: 108. Dalam kalender Masehi, menurut Al-Manshuri dan Mahmud Basya, Nabi Muhammad lahir tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M. (lihat: Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 1997, Sîrah Nabawiyyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hal: 75.   
6 Al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan, 1990, Fiqh as-Sîrah, Beirut: Dâr al-Fikr. Hal: 59.
7 Ibnu Hisyam, ibid.
8 Ibnu Katsir, op.cit, hal: 109.
9 Jum’ah, Ali, 2005, Al-Bayân li Mâ Yasygil al-Adzhân, Kairo: Al-Muqaththan, hal: 167.
10 Al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan, 2001, Bahaya Bebas Madzhab, Bandung: Pustaka Setia, hal: 209.

 

Daftar Pustaka

Ad-Dimasyqi, Abu Al-Hafidh Ibnu Katsir, 1992, Tafsîr Al-Qur`ân Al-Azhîm, Beirut: Dâr al-Fikr
Al-Baqqy, Muhammad Fuad, 2005, Al-Lu’lu’ wa al-Marjân, Kairo: Dâr al-Hadits
Al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan, 1990, Fiqh as-Sîrah, Beirut: Dâr al-Fikr
_______, 2001, Bahaya Bebas Madzhab, Bandung: Pustaka Setia
Al-Maliky, Ahmad ash-Shawi, tt., Hâsyiyah ash-Shâwy ‘alâ Tafsîr al-Jalalain, Beirut: Dâr al-Fikr
An-Naisabury, Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, 1992, Shahîh Muslim, Beirut: Dâr al-Fikr
Ibnu Hisyam, tt., As-Sîrah an-Nabawiyyah, Beirut: Dâr al-Fikr
Jum’ah, Ali, 2005, Al-Bayân li Mâ Yasygil al-Adzhân, Kairo: Al-Muqaththan

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini20
Kemarin37
Minggu ini57
Bulan ini1198
Total94139

Saat ini ada 49 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting