SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Selasa Februari 28, 2017
Beranda  //  Blog  //  Dinamis  //  Konsep Tasawuf dalam Dinamika Berdakwah

keuntunganJika anda bertanya, apa keuntungan belajar di YAPINK? Keuntungan yang akan anda peroleh akan sangat bervariasi, dapat berupa keuntungan finansial, efektifitas, dan kualitas. Beberapa keuntungan yang dapat anda jadikan bahan pertimbangan antara lain: Selanjutnya..

kitab kuningSemakin banyak sekolah-sekolah Islam yang meninggalkan kitab kuning. Hal itu dapat berarti semakin jauh umat Islam dari sumber ilmunya yang otentik. Belum lagi berbagai citra negatif yang dilontarkan tentang kitab kuning, semakin mengikis minat umat untuk mempelajarinya. Selanjutnya..

karakteristikSebagai salah satu perguruan Islam tertua di Bekasi, YAPINK memiliki kekhasan dan karakteristik khusus yang membedakannya dengan lembaga lain. Kekhasan tersebut telah digariskan sejak awal oleh para pendirinya, dan terus dipertahankan hingga kini. Selanjutnya..

Konsep Tasawuf dalam Dinamika Berdakwah

Ditulis oleh H. Faisol Hakim Halimi, Lc. MA

Pendahuluan

sufiBelakangan ini di tengah masyarakat Indonesia tengah bermunculan fenomena gerakan dakwah bernuansa sufi yang kian dinamis dalam aktifitasnya. Hal ini terutama ditandai dengan semakin merebaknya majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian di kota-kota besar bak jamur di musim penghujan. Ada majelis zikir Az-Zikra yang dipimpin oleh Arifin Ilham, ada majelis pengajian Wisata Hati yang dipimpin oleh Yusuf Mansyur, bahkan ada pula majelis pengajian yang lebih variatif aktivitas dakwahnya, yakni majelis pengajian Darut-Tauhid pimpinan A’a Gym dengan jargon utamanya ‘manajemen qalbu’. Tentunya fenomena ini baru sebagian kecil yang kita rasakan belakangan ini. Akan tetapi sebenarnya masih banyak lagi fenomena-fenomena tersebut yang tidak begitu terekspos oleh media.

Bahkan, kalau ditilik sepanjang sejarah masuknya Islam di Indonesia, sebenarnya fenomena ini sudah lama ada. Ditandai dengan berdirinya pesantren-pesantren yang sebagian besar berdiri di pulau Jawa dan Madura. Sebenarnya, jauh sebelum masa kemerdekaan, pesantren telah menjadi sistem pendidikan Nusantara. Hampir di seluruh pelosok Nusantara, khususnya di pusat-pusat kerajaan Islam telah terdapat lembaga pendidikan yang kurang lebih serupa walaupun menggunakan nama yang berbeda-beda, seperti Meunasah di Aceh dan Surau di Minangkabau.1 Sebab pesantren-pesantren itu sendiri dalam praktek pembelajarannya kepada para santri-santri didiknya, biasanya menerapkan pola-pola pendidikan yang kental sekali nuansa tasawufnya, seperti menerapkan kepada para santrinya untuk zikir bersama yang dilanjutkan dengan membaca maulid barzanji setiap seminggu sekali, lalu diharuskannya para santri didik untuk selalu melaksanakan shalat tahajud dan shalat-shalat sunnah lainnya, serta diajarkannya pendidikan-pendidikan akhlak, seumpama memberi anjuran kepada para santri didik untuk membiasakan puasa sunnah, makan dengan seadanya, berpakaian sederhana, takzim kepada seorang guru, dan lain sebagainya. Tentunya secara tidak langsung, praktek pembelajaran yang diterapkan pesantren ini tak jauh beda dengan apa yang diterapkan oleh lembaga tarekat yang terdapat di kalangan sufi. Dengan demikian pendidikan ala kaum sufi tampaknya masih sangat relevan dan diterima di Nusantara. Selain itu, pendidikan ala kaum sufi ini terhitung efektif dan relatif berhasil, serta digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun demikian, ternyata selalu ada saja kelompok lain di dalam Islam sendiri yang meremehkan tasawuf, bahkan cenderung menolak, atau bahkan membid’ah-bid’ahkan tasawuf, dengan dalih bahwa tasawuf itu tidak sesuai dengan manhaj kaum salaf, atau tidak ada relevansinya di zaman Nabi dan sahabat.

Tantangan semacam ini patut ditanggapi secara serius, mengingat bangunan paradigma tasawuf yang telah sedemikian kokohnya, dan didukung oleh banyaknya ulama-ulama yang telah membidani ilmu tasawuf, serta banyaknya literatur-literatur yang ditulis oleh para ulama cukuplah dijadikan sebagai argumen untuk menyikapi tantangan tersebut. Sehingga jangan sampai hanya akibat kesalahan dari oknum-oknum yang mengaku sufi, namun malah hal itu akan mengotori tasawuf, sehingga akan merobohkan bangunan paradigmanya yang telah sedemikian tegak berdiri.

Untuk itu, patutlah kita kembalikan hal tersebut kepada Islam itu sendiri. Sebab, sebagaimana dipahami bahwasanya Islam adalah ajaran yang sangat komprehensif dalam cakupannya, di dalamnya ada aspek ada syariah yang mewakili pilar keislaman, ada aspek akidah yang mewakili pilar keimanan, dan ada aspek akhlak yang mewakili pilar ihsan. Hal ini sebagaimana yang tersurat dalam Hadits yang berisi dialog Nabi saw. dengan Malaikat Jibril ketika hendak menjelaskan masalah agama kepada para sahabatnya. Untuk mengkaji aspek-aspek dimensi keislaman ini, dibutuhkan pemahaman terhadap tauhid untuk mendalami akidah, fikih untuk mendalami syariah, dan tasawuf untuk mendalami akhlak. Sedangkan dalam tulisan ini akan lebih difokuskan kepada dimensi ihsan atau sisi akhlak dengan lebih jauh menyelami dimensi tasawuf.

Bila kita amati lebih lanjut, bahwasanya memang ilmu tasawuf lebih mewakili aspek ihsan, sebab di dalam disiplin ilmu tasawuf ini lebih dominan nilai-nilai spiritualitas yang berkenaan dengan masalah hati dan jiwa. Dengan mempelajari tasawuf diharapkan seorang individu bisa mengetahui dan mengerti lebih jauh tentang bagaimana ia beretika, baik kepada Tuhannya, kepada sesamanya, bahkan kepada dirinya sendiri, sehingga paling tidak, bagaimana dengan bertasawuf seseorang bisa memiliki jiwa yang bersih, dan sebagai seorang hamba ia bisa merasakan beribadah kepada Allah seakan-akan hamba tersebut melihat-Nya (musyahadah) atau paling tidak seorang hamba seakan-akan merasakan bahwasanya dirinya dilihat oleh Allah (muraqabah).

Selain itu, dalam konteks sejarah Islam terutama pada masa Daulah Umawiyah, kita ketahui bahwasanya pada saat itu kaum sufi dikenal sebagai orang-orang yang paling taqwa dan paling jujur dalam kecintaanya kepada Allah swt.. Maka tak bisa dipungkiri, bahwasanya tasawuf baik itu sebagai ajaran ataupun sufi sebagai sebagai subyek dari pelaku ajaran tersebut, telah memberikan kontribusi yang besar sekali dalam melanjutkan estafet tugas dari risalah kenabian. Apabila kita mengamati kandungan Al-Quran Al-Karim, kita sadari bahwasanya tugas dari seorang Rasul, adalah banyak sekali di antaranya menyampaikan wahyu dari Allah swt. yang berupa perintah, larangan, ilmu pengetahuan dan hikmah, serta menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus membawa umat dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, juga yang amat terpenting dari tugas seorang Rasul adalah memimpin umat sekaligus mendidik umat dengan akhlak mulia yang penuh dengan nilai-nilai rabbani sehingga kelak akan terlahir dari umat ini generasi-generasi penerus yang bisa mewarisi karakter atau esensi dari kerasulan itu. Sedangkan para Rasul ini tidak mewariskan kepada umatnya dirham ataupun emas, akan tetapi mereka ini mewariskan kepada umatnya berupa ilmu, oleh karenanya maka para pewaris Nabi itu adalah para ulama. Namun, dari sekian banyak tugas yang diemban oleh seorang Rasul, bisa kita ringkas secara garis besar pada tiga perkara, yaitu: satu, menyampaikan hukum-hukum kepada para manusia (sebagai juru tabligh); dua, melaksanakan hukum-tersebut tersebut (sebagai ulil amri atau penguasa); tiga, mendidik jiwa atau akhlak para manusia (sebagai mursyid atau pembimbing akhlak).2

 

Latar Belakang Sejarah Lahirnya Tasawuf

Abad ke 2 hijriyah adalah fase yang menandai cikal-bakal lahirnya tasawuf. Tasawuf ini terlahir bisa dikatakan sebagai bentuk protes terhadap situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Banyak riwayat yang menceritakan bahwa pada saat itu masyarakat cenderung tenggelam dalam kemewahan dunia dan perebutan kekuasaan, sehingga para ulama yang dikenal zuhud pada saat itu berupaya untuk berhijrah dari kondisi demikian. Namun, di antara mereka ada yang tetap berjuang di jalur politik dengan tanpa takut akan ikut terjerumus di dalamnya, dan sebagian yang lain mengatasinya dengan cara berkhalwat, bermujahadah, dan berkumpul secara jamaah membentuk halaqah-halaqah kaum sufi. Selanjutnya dari halaqah-halaqah ini, terus berkembang menjadi sebuah organisasi yang dinamakan tarekat seperti yang saat ini kita kenal. Akhirnya lambat laun muncul pula beberapa nama tokoh-tokoh sufi besar seperti Hasan al-Bashri, Fudhail bin ‘Iyadh, Dzun Nun al-Mashry, Abu Yazid al-Busthami, Ibnu Mubarok dan tokoh-tokoh lainnya. Syekh Abdul Qadir Isa pengarang kitab Haqa`iq an at-Tashawwuf telah mengutip dari kitab Kasyfu az-Zunun, beliau menyebutkan bahwa orang pertama yang dijuluki sebagai sufi adalah Abu Hasyim as-Sufy yang wafat pada tahun 150 hijriyah.3

Selain munculnya nama-nama tokoh sufi di atas, bermunculan pula kitab-kitab yang khusus berbicara mengenai tasawuf. Di antara faktor terpenting yang menyebabkan dikarangnya buku-buku bernuansa tasawuf ini adalah guna memberikan bantahan terhadap oknum-oknum yang mengaku-ngaku sebagai tokoh sufi. Fenomena mengenai hal ini dapat dilihat pada mukaddimah dari sebagian besar kitab-kitab tasawuf, seperti At-Ta’arruf karya al-Kalabadzi, Al-Luma’ karya at-Thusi, dan Ar-Risalah karya al-Qusyairi.4

 

Asal Kata Tasawuf

Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa kata tasawuf itu memiliki asal-usul di antaranya:

  • Diambil dari kata ash-shafa yang menunjukan arti kejernihan, kaum sufi menurut definisi ini dianggap sebagai orang-orang yang jernih hatinya.
  • Diambil dari kata as-shifat yang menunjukkan arti sifat, dengan maksud bahwa kaum sufi adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji.
  • Diambil dari kata as-shuffah yang merupakan nama suatu ruangan di samping Masjid Nabawi yang disediakan bagi para sahabat Nabi yang miskin, dengan ini dimaksudkan bahwa tasawuf ini dinisbatkan kepada generasi pertama dari kalangan sufi yang terdiri dari para sahabat miskin yang dikenal kezuhudannya.
  • Diambil dari kata as-shaff yang artinya barisan, dengan maksud bahwa kaum sufi dianggap sebagai kaum yang berada di barisan terdepan dalam hal ibadah dan ketaatannya kepada Allah swt.
  • Diambil dari kata as-shafwah yang artinya pilihan, dengan definisi ini kaum sufi dianggap sebagai manusia-manusia terpilih, dan ini adalah definisi dari Imam al-Qusyairi.
  • Diambil dari kata ash-shuf yang artinya wol, maksudnya bahwa kaum sufi lebih banyak yang menggunakan pakaian terbuat dari bahan wol yang kasar. Mereka berpenampilan demikian karena mencintai kesederhanaan.5

Meskipun banyak sekali pendapat yang menyatakan asal kata tasawuf, namun istilah tasawuf itu sendiri sudah mafhum di mata banyak kalangan mengingat sudah terlalu banyaknya kitab-kitab yang menuliskan tentang ilmu ini, sebagaimana banyaknya kitab-kitab yang memuat tentang ilmu tauhid ataupun ilmu fiqih. Yang jelas, tasawuf yang dimaksud di sini adalah yang erat kaitannya dengan pembersihan jiwa dan kejernihan hati untuk sampai ke derajat ihsan.

 

Hakikat Tasawuf

Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual. Spiritualitas ini dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam di dalamnya. Dalam kaitannya dengan manusia maka tasawuf lebih menekankan aspek ruhaninya ketimbang aspek jasmaninya; dalam kaitannya dengan kehidupan, ia lebih menekankan "kehidupan akhirat" yang lebih baik dan kekal ketimbang kehidupan dunia yang fana; sedangkan dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan ia lebih menekankan aspek esoteris ketimbang aspek eksoteris, lebih menekankan penafsiran batiniah ketimbang penafsiran lahirah. Syekh Abdul Qadir al-Jaelani pernah berkata, "Tasawuf itu bukan diambil dari ucapan orang ini atau itu, akan tetapi tasawuf itu diambil dari rasa lapar, dari membatasi kesenangan-kesenangan, dan hal-hal yang bagus-bagus. Permulaan seorang fakir adalah dengan ilmu dan kelembutan. Ilmu menjadikan seorang fakir itu rindu dan kelembutan yang akan menenangkannya".6

Ibnu Khaldun pakar sosiologi Arab kelahiran Maroko telah berkomentar tentang tasawuf dalam buku Mukaddimahnya, "Ilmu ini adalah termasuk ilmu-ilmu syar'i yang dikategorikan baru dalam agama Islam.7  Namun begitu, tasawuf telah mendarah daging bagi para penganutnya, karena dengan melalui pintu tasawuf ini banyak sekali orang-orang yang mampu merasakan lezatnya ibadah. Di dalam tasawuf pula banyak terdapat aktifitas-aktifitas spiritual yang mampu membina dan menggembleng mental penganutnya. Di antara aktifitas tersebut adalah khalwat, zikir, dan mujahadah guna memerangi hawa nafsu yang bergejolak di dada setiap manusia. Kemudian bahwa mujahadah beserta khalwat yang diiringi dengan zikir ini biasanya, berikutnya akan menghasilkan terbukanya tabir indera keenam, serta dengan kekuasaan Allah swt. akan diperlihatkan pada pemandangan alam-alam gaib, sebab sebelumnya orang yang melaksanakan ini tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk mengetahui alam-alam gaib. Adapun sebab dari terbukanya indera keenam ini bagi orang tersebut adalah bila suatu ruh atau jiwa telah mengalahkan indera zahirnya demi memenangkan indera batinnya, niscaya akan melemah indera zahir itu, dan sebaliknya ruh atau indera batin seseorang itu akan menguat, sehingga kemampuannya akan berlipat ganda dan terus bertambah, semua itu bisa dibantu dengan zikir, karena zikir itu ibarat makanan yang bisa menghidupi ruh. Akhirnya ruh itu pun terus-menerus tumbuh dan berkembang, hingga ruh itu mampu menyaksikan sendiri hal yang gaib itu, setelah sebelumnya telah mengetahuinya, sehingga di saat itulah ruh itu menerima karunia-karunia Tuhan (mawhibah), ilmu-ilmu ladunni, serta terbukanya pintu ketuhanan (futuh ilahiyah)".8

Ajaran tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana, serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. Ibnu Khaldun mengungkapkan, pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah, mengkonsentrasikan tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridha-Nya), dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak diperbudak oleh harta atau tahta, atau kesenangan duniawi lainnya. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum Muslim angkatan pertama. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya, secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Ketika itulah, angkatan pertama kaum Muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah.9

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menambahkan dalam perkataannya, "Tasawuf itu dibangun oleh delapan sifat, yaitu:

  1. Sifat pemurah yang dimiliki Nabi Ibrahim as
  2. Sifat ridha yang dimiliki Nabi Ishaq as   
  3. Sifat sabar yang dimiliki Nabi Ayyub as
  4. Sifat isyarat yang dimiliki Nabi Zakaria as
  5. Sifat hidup dalam pengasingan yang dimiliki Nabi Yahya as
  6. Sifat sederhana (berpakaian wol) yang dimiliki Nabi Musa as
  7. Sifat pengembara yang dimiliki Nabi Isa as
  8. Sifat fakir yang dimiliki Nabi Muhammad saw.10

Namun boleh pula dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha yang sungguh-sungguh (mujahadah) dengan jalan mengasingkan diri dengan memperbanyak tafakkur atau zikir mengingat Tuhannya di setiap saat, sekaligus melepaskan hati dari keterkaitan dengan hal yang bersifat duniawi dengan memusatkan diri hanya kepada Allah, dan karena Allah semata.

 

Beberapa Metode Tasawuf dalam Berdakwah

a. Shuhbah (berguru atau bersama seorang guru)

Seorang pembimbing yang sempurna (al-mursyid al-kamil) sangat dibutuhkan sekali oleh seorang pencari ilmu hakikat (salik). Sebab dengan berguru kepada seorang yang sempurna, sedikit banyak akan memberikan pengaruh yang langsung bisa dirasakan oleh orang tersebut. Pengaruh itu bisa berupa akhlak yang mulia, etika yang luhur, ataupun tabiat yang terpuji. Ada sebuah syair yang mengatakan:

"Apabila engkau berada dalam suatu kaum,

maka bertemanlah dengan yang terbaik di antara mereka.

Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rusak,

maka engkau pun akan menjadi rusak pula."

"Janganlah engkau bertanya tentang siapa seseorang itu,

akan tetapi tanyalah mengenai siapa teman dari orang itu.

Setiap teman pasti ikut pada temannya,

atau sesuai dengan karakter temannya."

Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana para sahabat, yang ketika itu mereka semula hidup di tengah situasi jahiliyah yang penuh dengan kerusakan dan kebodohan. Namun setelah mereka bersuhbah atau berguru kepada Rasulullah saw., akhirnya mereka ikut terbawa karakter dan perilaku Rasulullah saw. yang agung dan mulia. Begitu pula para ulama dari kalangan tabi’in, mereka mampu berperilaku luhur dan mulia karena mereka telah bersuhbah atau berguru kepada para sahabat. Dan kita ketahui bahwasanya risalah Nabi Muhammad saw. itu tetap kekal hingga hari kiamat. Selanjutnya Rasulullah saw. itu memiliki para pewaris dari kalangan ulama-ulama yang makrifat kepada Allah swt., dan para ulama ini telah mewarisi banyak hal dari Nabi saw. di antaranya, ilmu, akhlak, iman, dan taqwa, sehingga tentu saja barangsiapa yang menjadi sahabat dekat mereka, semestinya mereka akan mendapatkan apa yang telah mereka warisi dari Rasulullah saw. Bahkan, ada ungkapan yang mengatakan, "Mereka itu para mursyid yang menjadi pewaris Rasulullah saw., berguru kepada mereka akan menjadi obat yang mujarab, jauh dari mereka akan menjadi racun yang bisa membunuh. Mereka itu adalah suatu kaum yang tidak akan menjadikan orang-orang yang berkumpul dengan mereka menjadi sengsara. Menemani mereka adalah sebagai penyembuh praktis yang efektif guna memperbaiki jiwa, membina akhlak, menanamkan akidah, menancapkan keimanan, oleh karena semua itu tidak bisa didapatkan dengan hanya membaca kitab-kitab ataupun menelaah buku-buku, melainkan itu adalah suatu amalan praktis yang sifatnya naluriah, yang bisa diambil dengan cara mengikuti dan bisa didapatkan dengan meminta curahan hati dan reaksi spiritual". 11 Di dalam Al-Qur`an juga disebutkan tentang urgensi bersuhbah (mencari seorang guru untuk curahan hati), firman Allah tersebut berbunyi, "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar".12 Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa untuk mencapai hakikat seseorang itu harus memiliki ilmu dan untuk mendapatkan ilmu, selain dari membaca adalah dengan menggunakan bantuan seorang guru untuk membimbing dan mengarahkannya.

 

B. Mujahadah (Berjuang)

Mujahadah atau jihad berarti mencurahkan segenap usaha demi mengatasi musuh atau tantangan. Mujahadah ini terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Berjuang memerangi musuh yang zahir
  2. Berjuang memerangi syetan
  3. Berjuang memerangi nafsu

Dalam Al-Qur`an disebutkan, "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami".13 Juga dalam ayat yang lain, "Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya".14 Dalam ayat yang lain disebutkan, ".. dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah."15  Hukum bermujahadah demi pembersihan jiwa adalah fardhu ‘ain, hal ini termasuk dalam pembahasan fiqih; segala sesuatu yang menjadi penyempurna bagi hal yang wajib, tentu dihukumi wajib pula.

Mujahadah memiliki empat rukun, yaitu;

1. Uzlah (menyendiri)

Yang dimaksudkan dengan uzlah di sini adalah menyendiri atau menjauhkan diri dari kekufuran, kemunafikan, perbuatan fasik dan dari para pelakunya, termasuk menjauhkan diri dari majelis-majelis yang di dalamnya ayat-ayat Allah diremehkan.16 Uzlah yang dilakukan oleh seorang sufi itu akan membantu menjernihkan hatinya, sebaliknya bila ia tetap berbaur dengan orang-orang yang berbuat munkar seperti yang termaktub di atas, maka itu akan melalaikannya dan menghilangkan kejernihan hatinya. Dalil dari Al-Qur`an yang berkaitan dengan anjuran uzlah adalah sebagai berikut, "Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)".17

2. As-Shamtu (diam)

Maksudnya lebih baik diam daripada mengeluarkan suatu perkataan yang mengandung dosa atau maksiat. Hal ini sebagaimana bunyi sabda Nabi saw., "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik-baik atau hendaknya ia diam".18

Dari hadits di atas kita bisa mengambil pelajaran akan urgensi menjaga lisan. Karena lisan adalah alat yang pertama kali memberikan ungkapan atas nafsu, sedangkan nafsu itu punya kecenderungan banyak sekali. Di antaranya, nafsu punya kecenderungan untuk bangga, punya kecenderungan untuk mencaci, punya kecenderungan untuk bermusuhan ketika sedang marah, punya kecenderungan untuk bergunjing atau membicarakan hal-hal yang tak berguna, dan lain sebagainya yang mempunyai konotasi buruk.

3. Al-Ju’ (rasa lapar)

Yang dimaksudkan di sini adalah agar seorang sufi itu terbiasa dengan kondisi perut kosong atau terbiasa menjalankan puasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa berperan sebagai perisai bagi seseorang yang menjalankannya. Dalam Hadits Nabi saw. berikut disebutkan, "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi nafkah maka nikahlah. Sesungguhnya dengan nikah itu lebih bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena sungguh puasa itu sebagai perisai baginya".19

4. As-Sahar (mengurangi tidur malam)

Yang dimaksud di sini adalah menggunakan waktu malam sebaik-baiknya untuk beribadah, khususnya di sepertiga malam terakhir. Islam memberikan perhatian yang khusus pada keutamaan waktu malam. Sebagaimana firman Allah swt. yang berbunyi, "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan".20 Selain itu, orang-orang biasanya akan merasa berat sekali untuk bangun di waktu malam, padahal pahala di balik itu sangatlah besar. Bahkan, orang yang mengisi waktu malam-malamnya dengan tahajud niscaya Allah akan tinggikan derajatnya, ini sebagaimana bunyi ayat berikut, "Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji".21

Selain dari empat macam mujahadah sebagaimana yang tercantum di atas, seorang salik dianjurkan pula untuk memperbanyak amalan ibadahnya serta menyempurnakannya dengan langkah-langkah sebagaimana berikut.

Adapun konsep-konsep ruhiyah itu antara lain:

  1. Melaksanakan shalat fardhu secara berjama’ah
  2. Melaksanakan shalat-shalat sunnah rawatib secara menyeluruh
  3. Selalu memelihara shalat sunnah dhuha, shalat malam, dan shalat witir
  4. Bila memungkinkan shalat tasbih dijadikan sebagai program harian
  5. Mengkhususkan untuk dirinya program mengkhatamkan Al-Qur`an.
  6. Selalu menjadi bahan perhatiannya untuk selalu menyibukkan diri dengan wirid-wirid zikir, seperti istigfar, salawat kepada Nabi, dan mengucap kalimat tauhid, dan zikir-zikir lainnya, dan hendaknya sebanyak-banyaknya mengucapkan zikir-zikir itu
  7. Hendaknya menjadi bahan perhatiannya untuk membaca wirid-wirid, seperti wirid-wirid shalat, wirid pagi dan sore, dan bila merasa bosan menggantinya dengan aktifitas positif lainnya
  8. Melakukan puasa semampunya selama beberapa hari, dan bersama itu hendaknya mengurangi makan, bicara, dan bergurau.22

 

C. Zikir

Di dalam Al-Qur`an zikir mengandung arti yang bermacam-macam, di antaranya bermakna membaca Al-Qur`an al-Karim dan melaksanakan shalat Jum’at. Akan tetapi sebagian besar menyatakan bahwa makna zikir adalah mengucapkan tasbih, tahlil, takbir, salawat kepada Nabi dan lain sebagainya. Dalil mengenai zikir di antaranya, "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu".23 Dalam ayat yang lain dinyatakan, "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring".24

Zikir dalam hal ini dibagi menjadi dua, yaitu (1) sirri (suara pelan); (2) jahri (suara keras). Zikir sirri sudah menjadi ciri khas Tarekat Naqsyabandiyah, begitu pula zikir jahri sudah menjadi ciri khas dari Tarekat Qadiriyah. Masing-masing keduanya memiliki keistimewaan tersendiri. Selain itu, seorang salik hendaknya melakukan zikir harian seperti:

  • Shalat jamaah, shalat rawatib sekaligus berzikir, qiyamullail, dan shalat dhuha
  • Istigfar tiap hari tak kurang dari 100 kali sehari
  • Mengucapkan tahlil (kalimat tauhid) tak kurang dari 100 kali sehari
  • Membaca salawat atas Rasulullah saw. tak kurang dari 100 kali sehari
  • Membaca surat al-Ikhlas tak kurang dari 3 kali sehari
  • Membaca tak kurang dari 1 juz Al-Qur`an dalam sehari
  • Membaca zikir di setiap keadaan seperti ketika makan, tidur, masuk atau keluar kamar mandi dan lain sebaginya
  • Memperbanyak zikir yang disunnahkan seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqala dan lain sebagainya yang sifatnya mutlak tak terikat dengan waktu.25

 

D. Tarekat

Di dalam istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan dirinya sedekat mungkin kepada Tuhan. Untuk dapat melaksanakan tarekat dengan baik, seseorang murid hendaknya mengikuti jejak dan melaksanakan perintah dan anjuran yang diberikan mursyidnya. Ia tidak boleh mencari-cari keringanan dalam melaksanakan amaliyah yang sudah ditetapkan dan dengan segala kekuatannya ia harus mengekang hawa nafsunya untuk menghindari dosa dan noda yang dapat merusak amal.

Ia juga harus memperbanyak wirid, zikir, dan do’a, serta memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Untuk tidak melanggar hukum-hukum agama, murid harus belajar ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syari’at. Tarekat adalah suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik, dalam rangka membersihkan jiwanya sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Banyaknya metode yang muncul dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, melahirkan banyaknya tarekat-tarekat di berbagai belahan dunia sebagai manifestasi Ilahiyah yang diserapkan kepada masing-masing diri seorang sufi besar setiap zamannya. Hal demikian, secara alamiah akan terjadi di setiap strata bidang pengetahuan manapun, bahwa ide-ide pengembangan dari setiap spesifikasi metode pengajaran dan pengetahuan memunculkan pula spesifikasi identitas.

Keanekaragaman tarekat sufiyah sebagaimana halnya mazhab-mazhab pemikiran dalam bidang fiqih dan firqah-firqah dalam bidang ilmu kalam atau lainnya. Orang-orang yang mengamalkan metode pendekatan diri tersebut, yang dikatakan sebagai salik atau sufi, pada perkembangan selanjutnya membentuk suatu jam’iyyah (organisasi) yang disebut kemudian dengan istilah "Tarekat". Pada prinsipnya, seorang salik yang menempuh suatu tarekat memiliki amalan-amalan atau aktivitas tertentu yang bersifat sangat pribadi, seluruhnya dihubungkan secara vertikal kepada Allah swt. Ikatan dan jalinan seorang murid dan guru dalam suatu tarekat, biasanya diawali dengan suatu prosesi bai’at, talqin, atau ijazah. Eratnya hubungan kedua elemen tersebut, berdampak logis kepada ketergantungan seorang murid kepada gurunya dalam menentukan arah perjalanan sufistiknya, sehingga metode apapun yang ditempuh seorang salik dalam suatu tarekat wajib mengedepankan arah kebijakan syeikh atau mursyidnya. Sekiranya Nabi Muhammad saw. masih hidup, kita dapat mengambil ilmu langsung dari beliau dan tidak perlu lagi kepada perantara. Akan tetapi, karena beliau telah wafat maka terpisahlah beliau saw. dengan alam dunia dan seisinya. Oleh karena itu, tidaklah dapat manusia berhubungan secara langsung dengan beliau. Begitu juga halnya dengan syeikh-syeikh kesufian yang hakiki. Apabila mereka telah kembali ke rahmatullah, maka tidak ada lagi orang yang dapat belajar langsung dari mereka yang telah kembali menemui Tuhannya. Oleh karena itu, seorang mursyid yang masih hidup itu, mestilah ada hubungan keruhanian dengan Rasulullah saw., yaitu orang yang benar-benar mewarisi ilmu dan keadaannya Rasulullah saw. itu. Dalam ajarannya seorang mursyid menerima panduan dari Nabi saw. Selain itu, hendaklah seorang Mukmin yang hakiki. Sang mursyid ini adalah alat atau wasilah untuk meneruskan kesinambungan jalan keruhaniannya itu yang hubungan selanjutnya adalah hubungan keruhanian yang sifatnya rahasia antara seorang salik dengan Tuhannya, sehingga hanya orang yang layak memahaminya yang akan paham atas yang demikian itu.

 

Penutup dan Kesimpulan

Apabila kita mengaitkan antara praktek tasawuf dengan yang ada pada masa-masa awal Islam, sebenarnya tasawuf adalah perpanjangan dari aktifitas zuhud yang ada pada masa Nabi dan sahabatnya. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari tasawuf, sebab tasawuf adalah aspek spiritual dalam agama, atau merupakan bagian dari pilar ihsan dalam agama. Sekalipun banyak tindakan-tindakan dari sebagian oknum yang mengaku sufi, dengan menyelipkan ajaran-ajaran dari luar Islam, ataupun dengan membuat bid’ah-bid’ah baru dalam agama, namun janganlah sampai hal itu menimbulkan klaim bahwasanya tasawuf itu bid’ah dan tak sesuai dengan agama, sehingga harus dimusnahkan, melainkan menjadi tugas kita untuk mengembalikan ajaran tasawuf agar benar dan sejalan dengan ajaran Al-Qur`an dan Al-Hadits.

Sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai wali Allah, seperti di India, Afrika Utara, Afrika Selatan, bahkan di Indonesia sendiri. Di Aceh yang terkenal dengan serambi Mekah, suatu gelar yang diberikan untuk menggambarkan betapa pesatnya kemajuan ilmu-ilmu Islam di daerah itu. Adalah hal yang pantas bila kita harus menyebut walisongo sebagai para ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam di bumi Nusantara. Dan masih banyak lagi yang dapat disebutkan untuk menjelaskan bahwa ulama-ulama tasawuf sangat berjasa dalam mengembangkan Islam di dunia. Oleh karena itu, di manapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa, mereka telah berbaur dengan masyarakat dengan segenap kebersihan hati dan jiwanya sehingga dengan mudahnya mereka mampu memberi pemahaman kepada umatnya mengenai ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Di kalangan cendekiawan Muslim dunia saat ini ada suatu kesepakatan di mana secara de facto bahwa pada umumnya para sufi tidak menjauhi kehidupan realita (duniawi). Mereka sangat cukup memberikan sumbangan yang besar bagi kehidupan sosial kemasyarakatan. Peranan tokoh-tokoh tarekat terkenal seperti Junaid al-Baghdadi, Abu Yazid al-Busthami, dan Abul Hasan as-Syadzili telah mempunyai catatan sejarah kepahlawanan yang amat gigih dalam mempertahankan negerinya. Imam Al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan lainnya telah meninggalkan literatur yang cukup banyak untuk dipelajari oleh orang-orang sesudahnya. Kisah nyata ini adalah bukti yang tidak bisa dibantah di kalangan sejarawan atau ulama kharismatik manapun. Maka selanjutnya para ulama pada saat ini hendaknya perlu menyadari dan menengok kembali sejarah masa lalu, yang telah merekam perjalanan kehidupan masa lalu tentang sepak terjang ulama sufi, dan hal tersebut karena cahaya tasawuf melalui bimbingan Ilahiyyah telah mengobarkan semangat pencerahan manusia di belahan bumi manapun, sebagaimana konsep "Rahmatan lil ‘Alamin"-nya Rasulullah saw. adalah merupakan suatu kenyataan bahwa nilai-nilai spiritualitas sekarang ini semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern. Meruaknya berbagai fasilitas untuk mendalami pengetahuan bertasawuf di lapisan menengah ke atas menunjukkan bahwa fenomena keagamaan akhir-akhir ini patut dicermati. Di samping itu terdapat kecenderungan berbagai pihak, baik kalangan ulama maupun awam untuk tidak malu-malu lagi berdiri di bawah bendera tasawuf, sehingga timbul asumsi bahwa sekarang ini telah muncul istilah rekonsiliasi, yakni perpaduan nilai-nilai sufistik dengan dunia modern (yang pada lembaran sejarah lama masih sering diributkan pro-kontra antara tasawuf dengan syari’at atau fiqh). Kami sadar, tulisan ini hanyalah sekelumit uraian yang belum sempurna, maka dipersilahkan untuk menyempurnakan pemahaman melalui literatur-literatur lain yang otentik. Tidak ada kesempurnaan melainkan milik Allah swt. Wallahu a’lam. []

 

Catatan Kaki 

1 Pola Pembelajaran di Pesantren (Depag 2003) Hal. 3.
2 Disarikan dari karya Abu Muhammad Rahimuddin Nawawi Al-Bantani, Madkhal ila at-Tashawwuf ash-Shahih al-Islami (Cairo: Dar al-Aman, 2003) cet. ke-1, hal. 10-11.
3 Syekh Abdul Qadir Isa, Haqa`iq 'an at-Tashawwuf (Syiria: Dar al-Irfan, 2001) cet. ke-11, hal. 26.
4 Abu Muhammad Rahimuddin Nawawi al-Bantani, Madkhal ila at-Tashawwuf as-Shahih al-Islami, (Cairo: Dar al-Aman, 2003) cet. ke-1, hal. 55.
5 Disarikan dari karya Syekh Abdul Qadir Isa, Haqa`iq 'an at-Tashawwuf  (Syria: Dar al-Irfan, 2001) cet. ke-11, hal. 20-21.
6 Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Gaib (Mesir: Syirkah Musthafa al-Halabi, 1392H/1973M) cet. ke-2, hal. 166.
7 Ibnu Khaldun, Muqaddimah (Iskandariyah, Mesir: Dar Ibnu Khaldun) cet. ke-1, hal. 328.
8 ibid.
9 loc.cit, KH. Ali Yafie, "Tasawuf", dalam situs www.isnet.org/archive-milis/archive97/sep97/msg00302.html.
10 Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Gaib (Mesir: Syirkah Musthafa al-Halabi, 1392H/1973M) cet. ke-2, hal. 167.
11 Syekh Abdul Qadir Isa, Haqa`iq 'an at-Tashawwuf (Syiria: Dar al-Irfan, 2001) cet. ke-11, hal. 42-43.
12 QS. At-Taubah: 119.

13 QS. Al-'Ankabut: 69.
14 QS. Al-Hajj: 78.
15 QS. At-Taubah: 41.
16 Sa’id Hawa, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah (Cairo: Dar as-Salam, 1999) cet. ke-6, hal. 121.
17 QS. Al-An’am: 68.
18 HR. Bukhari.
19 HR. Bukhari.
20 QS. Al-Muzammil: 6.
21 QS. Al-Isra`: 79.
22 Sa'id Hawa, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah (Cairo: Dar as-Salam, 1999) cet. ke-6, hal. 99.
23 QS. Al-Baqarah: 152.
24 QS. 'Ali Imran: 191.
25 Sa'id Hawa, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah (Cairo: Dar as-Salam, 1999) cet. ke-6, Hal. 102.

 

Daftar Pustaka 

Al-Qur'an dan terjemahannya

Al-Bukhari, Sahih Bukhari (Beirut: Dar Al-Fikri, 1401 H)

Al-Jaelani, Syeikh Abdul Qadir, Futuh al-Gaib (Mesir: Syirkah Musthafa al-Halabi, 1392H/1973M) cet. ke-2

Isa, Syeikh Abdul Qadir, Haqa`iq 'an at-Tashawwuf (Syria: Dar al-Irfan, 2001) cet. ke-11

Khaldun, Ibnu, Muqaddimah (Mesir: Dar Ibnu Khaldun) cet. ke-1

Hawa, Sa’id, Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah (Mesir: Dar as-Salam, 1999) cet. ke-6

Pola Pembelajaran di Pesantren (Depag, 2003)

Situs http://www.isnet.org

 

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini20
Kemarin37
Minggu ini57
Bulan ini1198
Total94139

Saat ini ada 54 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting