SELAMAT DATANG DI PESANTREN KAMI

YAYASAN PERGURUAN ISLAM EL-NUR EL-KASYSYAF (YAPINK)

TAMBUN SELATAN - BEKASI

Rabu November 22, 2017
Beranda  //  Blog  //  Dinamis  //  Persoalan Doa Iftitah

keuntunganJika anda bertanya, apa keuntungan belajar di YAPINK? Keuntungan yang akan anda peroleh akan sangat bervariasi, dapat berupa keuntungan finansial, efektifitas, dan kualitas. Beberapa keuntungan yang dapat anda jadikan bahan pertimbangan antara lain: Selanjutnya..

kitab kuningSemakin banyak sekolah-sekolah Islam yang meninggalkan kitab kuning. Hal itu dapat berarti semakin jauh umat Islam dari sumber ilmunya yang otentik. Belum lagi berbagai citra negatif yang dilontarkan tentang kitab kuning, semakin mengikis minat umat untuk mempelajarinya. Selanjutnya..

karakteristikSebagai salah satu perguruan Islam tertua di Bekasi, YAPINK memiliki kekhasan dan karakteristik khusus yang membedakannya dengan lembaga lain. Kekhasan tersebut telah digariskan sejak awal oleh para pendirinya, dan terus dipertahankan hingga kini. Selanjutnya..

Persoalan Doa Iftitah

Ditulis oleh M. Bukhori Maulana

A. Mukadimah

iftitahDoa iftitah adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram. Dalam beberapa matan (redaksi) Hadits Nabi terdapat beberapa doa iftitah yang kalimat dan isinya tidak sama. Sebenarnya, sekalipun berbeda, memilih membaca salah satu doa iftitah tersebut dalam sholat tidak ada persoalan karena semuanya bersumber dari Hadits Nabi. Tapi dalam praktek ibadah keseharian kaum Muslimin, bacaan iftitah yang berbeda-beda tersebut justru memunculkan masalah.

Sebagian umat Islam memilih doa iftitah dengan kalimat "Allahumma baa’id baini.." dan seterusnya. Bagi yang cenderung selalu membaca doa iftitah dengan kalimat tersebut akan cenderung pula meninggalkan doa iftitah dengan kalimat "Allahu Akbar Kabira.." dan seterusnya. Demikian pula yang cenderung biasa membaca doa iftitah dengan kalimat "Allahu Akbar Kabira.." dan seterusnya akan mengabaikan bacaan iftitah yang diawali kalimat "Allahumma baa’id baini..".

Bahkan, yang lebih disayangkan masing-masing kalimat tersebut seakan-akan menjadi identitas masing-masing kelompok dalam Islam. Padahal, sekali lagi, kalimat-kalimat tersebut bersumber dari Hadits Nabi Muhammad saw.

Tulisan ini bertujuan menjernihkan masalah doa iftitah untuk memperlebar terbukanya pintu ukhuwah bagi sesama umat Islam.

 

B. Macam-macam Do’a Iftitah

1. Doa iftitah yang diawali "Allahumma baa’id baini wa baina khathayaa".

 

حَدَثَنّاَ مُوْسَى بْنُ إِسْمَاعِيْلَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اْلوَاحِدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ حَدَّثَناَ عُمَارَةُ بْنُ الْقَعْقَاعِ قَالَ حَدَّثَناَ أَبُوْ زُرْعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَكْبِيْرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قاَلَ أَحْسِبُهُ هُنَيَّةً، فَقُلْتُ بِأَبِى وَأُمِّيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ،  إِسْكَاتُكَ بَيْنَ الْتَكْبِيْرِ وَالْقِرَاءَةِ مَاتَقُوْلُ؟ قَالَ أَقُوْلُ اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَماَ يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمّّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ 

 

Artinya:

"Meriwayatkan padaku Musa bin Ismail ia berkata meriwayatkan padaku Abdul Wahid bin Ziyad ia berkata, meriwayatkan padaku ‘Umaroh bin Al-Qo’qo’ ia berkata, meriwayatkan padaku Abu Zur’ah ia berkata, meriwayatkan padaku Abu Hurairah ia berkata, adalah Rasulullah saw diam sejenak di antara takbir dan bacaan (surat Al-Fatihah). Ia berkata, Aku menyangka beliau diam sejenak. Kemudian aku berkata, “Demi bapakku dan ibuku, Ya Rasulallah, dalam diammu antara takbir dan membaca (surat Al-Fatihah) bacaan apa yang engkau baca?” Rasulullah saw menjawab, “Aku membaca Ya Allah jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana engkau menjauhkan antara belahan timur dan barat, Ya Allah bersihkanlah aku dari dosa-dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah siramilah dosa-dosaku dengan air, salju, dan air embun."

Hadits shahih tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam "Bab: Apa yang dibaca setelah Takbir (89)" no. 744, Imam Muslim dalam "Bab: Apa yang diucapkan di antara Takbiratul Ihram dan Bacaan (surat Al Fatihah)"  no. 598.

 

2. Doa iftitah yang diawali "Alhamdulillah".

 

وَحَدَّثَنِيْ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ. أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ وَثَابِتٌ وَحُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلاً جَاءَ فَدَخَلَ الصَّفَ وَقَدْ حَفَزَهٌ النَفَسُ. فَقَالَ اَلْحَمْدُ اللهِ حَمْداَ كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ أَيُّكُمُ اْلمُتَكَلِّمُ بِالْكَلِمَاتِ؟ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ. فَقَالَ أَيُّكُمُ الْمُتَكَلِمُ بِهَا؟ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا. فَقَالَ رَجُلٌ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِيْ النَفَسُ فَقُلْتُهَا. فَقَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ اِثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنُهَا. أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

 

Artinya:

"Meriwayatkan padaku Zuhair bin Harb, meriwayatkan padaku Affan, meriwayatkan padaku Hammad, mengabarkan padaku Qotadah, Tsabit dan Humaid dari Anas ra bahwa sesungguhnya seorang lelaki datang dan masuk ke barisan (orang-orang yang sedang sholat berjamaah) dengan nafas yang tersengal-sengal, kemudian ia mengucapkan, "Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya yang baik dan diberkahi di dalamnya" maka setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya beliau bersabda, "Siapa di antara kalian yang mengucapkan beberapa kalimat?" Para sahabat diam. Rasulullah bersabda lagi, "Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tersebut, sesunguhnya ia tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang membahayakan" Maka berkatalah salah seorang lelaki, "Aku datang dalam keadaan tersengal-sengal nafasku kemudian aku mengucapkan kalimat-kalimat tersebut" Rasulullah bersabda, "Sungguh aku melihat dua belas Malaikat bergegas berebutan siapa di antara mereka yang mengangkat kalimat tersebut".

Hadits shahih tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam "Bab: Apa yang diucapkan di antara takbiratul ihram dan bacaan (27)" no. 600.

Dalam hadits tersebut bacaan iftitah berasal dari sahabat Nabi, tapi Nabi tidak melarangnya bahkan beliau mengabarkan mengenai keutamaan doa tersebut.

 

3. Do’a iftitah yang diawali "Allahu akbar kabiran"

 

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنَ عُلَيَّةَ أَخْبَرَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِيْ عُثْمَانً  عَنْ أَبِيْ الزُبَيْرِ، عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرَا. وَالْحَمْدُ اللهِ كَثِيْرَا. وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَ وَّأَصِيْلاً. فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ! قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ. قَالَ اْبنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ

 

Artinya:

"Meriwayatkan padaku Zuhair bin Harb, meriwayatkan padaku Ismail bin Ulaiyah, mengabarkan padaku Al-Hajjaj bin Abi Usman dari Abu Az-Zubair dari 'Aun bin Abdillah bin 'Utbah dari Ibnu Umar ia berkata, suatu ketika kami sholat bersama Rasulullah saw, tiba-tiba salah seorang laki-laki di antara sahabat berkata, "Allahlah yang Maha Besar, yang sempurna kebesarannya. Dan segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah di waktu pagi dan petang." Kemudian Rasulullah bersabda, "Siapakah orang yang membaca kalimat begitu dan begitu?" Lelaki tersebut menjawab, "Saya ya Rasulullah"  Rasulullah saw bersabda, "Aku kagum dengan kalimat tersebut, karena kalimat tersebut pintu-pintu langit dibuka". Abdullah bin Umar kemudian berkata, "Sejak aku mendengar Rasulullah bersabda begitu, aku tidak pernah meninggalkan bacaan kalimat tersebut."

Hadits shahih tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam "Bab: Apa yang diucapkan di antara takbiratul ihram dan bacaan (27)" no. 601.

Dalam hadits yang bersumber dari Abdullah bin Umar tersebut bacaan doa iftitah yang berasal dari salah seorang sahabat Nabi itu oleh beliau tidak dilarang bahkan beliau menunjukkan kekagumannya dan mengabarkan keutamaannya. Bahkan, Abdullah bin Umar menegaskan bahwa sejak Nabi Muhammad bersabda seperti itu ia tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut dalam sholatnya.

Berdasarkan keterangan di atas, maka siapapun boleh memilih salah satu macam doa iftitah atau semua doa tersebut di dalam sholatnya karena semuanya memiliki dasar yang kuat  dari hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Seyogyanya siapapun tidak boleh menyalahkan orang lain karena bacaan yang dipilih berbeda dengan bacaannya. Wallahu a'lam. []

 

Comments   

 
0 #2 عبد الحكيم 2015-06-11 22:59
doa Allohu Akbar Kabiiro dst. Adalh bukti bhw sesuatu yg belum dicontohkn Nabi saw itu pasti bidah dholaalah
Quote
 
 
0 #1 harjo 2013-11-21 04:33
:-) I like it...
smua harus bersumber dr qur'an n hadis yg sohih, bkn sembarang sumber
Quote
 

Tulis Komentar

Perkataan mencerminkan kepribadian. Pikirkan baik-baik kata-kata anda sebelum memberikan komentar.


Security code
Refresh

Indonesian Arabic Dutch English French German Japanese

Login Anggota

Statistik Kunjungan

Hari ini17
Kemarin51
Minggu ini115
Bulan ini978
Total105767

Saat ini ada 55 tamu dan 0 anggota online

VCNT

Khazanah YAPINK

Arsip Posting